Pinned

Warga Bertahan di Pengungsian & Sekolah yg Butuh Bantuan…..catatan perjalanan menyalurkan donasi ke Kab Sigi

Sama seperti Kota Palu dan Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala, juga belum sepenuhnya pulih pascabencana. Meski bantuan sejatinya terus mengalir untuk Donggala. Seperti apa kondisinya? Berikut laporan wartawan Jawa Pos Radar Malang Indra Mufarendra yang belum lama ini berkunjung ke sana.

Rabu siang (26/6), usai melihat kondisi Masjid At-Tartib di Desa Sidera, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, wartawan koran ini bersama Aris Subagiyo (Fakultas Teknik UB) dan Kharisma Mahardika (konsultan arsitektur), langsung menuju Kabupaten Donggala.

Kali ini kami diantar Pemimpin Redaksi (Pemred) Radar Sulteng Murtalib. Dari Desa Sidera, Kabupaten Donggala, berjarak kurang lebih 30 kilometer.

Sebetulnya tidak terlalu jauh. Namun, perjalanan terhambat karena ada sejumlah titik jalan yang rusak. Bahkan terputus.

Seperti jalan yang melewati Perumnas Balaroa. Kawasan ini seperti diketahui, ”hilang” ditelan likuifaksi. Sama seperti pemukiman di Desa Jono Oge dan Perumahan Petobo.

Donggala yang kami kunjungi kali ini adalah Donggala yang berada di sisi barat Teluk Palu. Jalan yang kami lewati berada di pesisir pantai. Sekaligus berada di kaki gunung yang sebagian ”wajahnya” sudah bopeng-bopeng, sebagai dampak tambang galian C.

Pesisir Donggala dulunya ramai. Banyak warga yang mendirikan rumah, serta warung-warung.

Tapi sekarang, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Bahkan, sejumlah pedagang pasar, terpaksa membuka ”lapak” di depo (semacam penampungan) galian C.

Sementara itu, masih banyak pula pengungsi yang bertahan di tempat pengungsian di Kelurahan Gunung Bale, Kecamatan Banawa. Tempat pengungsian ini berada di kompleks perkantoran Pemkab Donggala. Lokasinya berada di atas perbukitan.

Tak cuma pemukiman, dan tempat-tempat usaha saja yang rusak. Lebih dari 30 sekolah di Kabupaten Donggala juga mengalami kerusakan.

Salah satunya SMP Negeri 1 Sindue. Bangunan sekolah rusak akibat gempa yang terjadi pada 28 September 2018 lalu. ”Tak lama setelah gempa, bangunan SMP Negeri 1 Sindue mengalami kebakaran,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Donggala Ibrahim Drakel.

Sampai saat ini, kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri 1 Sindue masih dilakukan di tenda-tenda darurat. Upaya pemulihan SMP Negeri 1 Sindue pun tengah diusahakan secepatnya. Apalagi, SMP Negeri 1 Sindue tengah bersiap untuk menyambut tahun ajaran baru 2019/2020.

Upaya pemulihan dilakukan, salah satunya dengan memanfaatkan dana yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang bersama Vocasional Education Development Center (VEDC). Total anggaran yang disiapkan lebih dari Rp 690 juta.

Rencananya, pembangunan akan dimulai bulan depan. Dan ditarget rampung di akhir November tahun ini.

Selain itu, SMPN 1 Sindue juga bakal menerima kucuran dana block grant. ”Sebenarnya, block grant itu untuk 2018. Ada tiga ruangan yang dibangun. Yakni, ruang kepala sekolah, ruang TU, dan ruang pertemuan,” kata dia.

Tapi, block grant itu urung cair di 2018 lalu. Lantaran bencana besar yang menimpa Donggala dan sekitarnya. ”Meski sudah ada block grant, kami tetap membuka kesempatan kepada pihak lain yang ingin ikut membantu,” ujar pria asal Maluku ini.

Namun, dia berharap agar bantuan itu tidak berupa uang. Melainkan langsung berupa pembangunan.

Sebab, bila bantuan itu berupa uang tunai, prosedurnya lebih rumit. ”Sebelum ini pernah ada bantuan dari Batam senilai Rp 3 miliar. Tapi, tidak bisa langsung digunakan karena masih harus melewati beberapa proses,” kata dia.

Jadi sebisa mungkin, bantuan-bantuan yang bakal masuk ke Donggala, tidak lagi melibatkan unsur pemerintahan. ”Namun, kami tetap berharap bahwa pembangunan itu nantinya melibatkan masyarakat lokal,” ujar dia.

Lebih lanjut, Ibrahim juga berharap agar ada semacam prasasti yang dibuat di lokasi pembangunan. ”Bisa prasasti, atau bisa pula gerbangnya ditulis ’bantuan dari Malang’,” kata dia.

Prasasti bisa menjadi semacam pertanggungjawaban bagi para donatur. ”Di sisi lain, siswa dan orang tua siswa bisa tahu siapa yang telah membantu mereka,” ujarnya.

Nantinya, akan ada semacam ”ikatan batin” bahwa mereka tidak sendirian pascabencana besar yang melanda tahun lalu. Bahwa ada orang-orang dari luar Donggala yang memberikan perhatian begitu besar kepada mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*