Pinned

Tata Ruang dan Ancaman Dampak Perubahan Iklim di Kota Malang

Ketika disebut nama Malang, terbayang suatu kota yang berhawa dingin, berada di dataran tinggi dengan landscape pegunungan yang indah. Diarsiteki seorang Thomas Karsten, kota ini berupaya mewujudkan sebuah “Kota Taman” yang hijau, asri dan indah. Perkembangan Kota Malang sangat dinamis, dengan Tri Bina Cita yaitu sebagai kota pendidikan, pariwisata dan industri dengan jumlah penduduk hampir menembus angka satu juta jiwa. Implikasinya terjadi perubahan dan alih fungsi ruang, sejengkal demi sejengkal lahan tidak terbangun berubah menjadi lahan terbangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Iklim mikro kota telah mengalami perubahan seiring perkembangan Kota Malang.

Perubahan iklim telah dirasakan di Kota Malang, salah satunya ditandai dengan adanya peningkatan suhu dalam beberapa tahun terakhir. Malang yang dulunya sejuk sekarang sudah seperti kebanyakan kota-kota besar, yaitu suhu udaranya mulai panas. Peningkatan suhu ini tidak lepas dari berubahnya penataan ruang kota, dengan terus meningkatnya lahan terbangun, berkurangnya ruang terbuka hijau yang pada akhirnya mempengaruhi iklim mikro kota. Perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ruang perkotaan, baik untuk kawasan budidaya maupun kawasan lindung, perlu dilakukan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan (keberlanjutan).

Idealnya penetapan pemanfaatan ruang yang berkelanjutan harus mempertimbangkan aspek daya dukung lingkungan, yaitu kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di dalamnya. Evaluasi rencana pemanfaatan ruang pada Perda Nomor 4 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Malang menunjukkan adanya kesesuaian terhadap kemampuan lahan sebesar 71% dari luas Kota Malang. Sedangkan rencana pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan kemampuan lahan sebesar 29% dari luas Kota Malang. Ketidaksesuaian inilah yang tentunya menjadi perhatian serius dalam adaptasi pemanfaatan ruang dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim.

Berdasarkan hasil analisis isi yang dilakukan pada kondisi eksiting pola ruang Kota Malang diketahui terdapat delapan variabel pola ruang yang tidak adaptif terhadap perubahan iklim yaitu : 1) Ruang Terbuka Hijau (RTH), dengan luas ideal RTH publik di perkotaan adalah 20% dari luas wilayah, maka dengan luas RTH publik Kota Malang masih sebesar ± 7,12%, masih jauh dari standar yang diamanatkan dalam UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. 2) Kawasan sempadan sungai, dengan mengacu pada Peraturan Menteri PU No. 05 Tahun 2008 terdapat ± 42,58 Ha lahan di sempadan sungai yang seharusnya berfungsi sebagai kawasan perlindungan setempat berupa RTH. Kenyataannya di kawasan yang seharusnya berfungsi sebagai kawasan perlindungan setempat berupa RTH terdapat bangunan rumah sejumlah ± 2058 unit yang melanggar garis sempadan sungai. 3) Sempadan rel kereta api, pada jalur rel kereta api yang membelah Kota Malang masih terdapat potensi lahan ± 43,13 Ha untuk dialokasikan sebagai RTH. Terdapat 2.405 unit bangunan yang berada di kawasan sempadan rel di Kota Malang. 4) Kawasan sempadan saluran udara tegangan tinggi (SUTT), terdapat potensi lahan di sempadan SUTT untuk RTH seluas ± 146,4 Ha.  Pada kawasan sempadan SUTT terdapat ± 2137 unit bangunan dengan luas ± 18,684 Ha yang melanggar garis sempadan SUTT. 5) Hutan kota, dengan luas hutan kota di Kota Malang sebesar 36,65 Ha (0,33%) masih jauh dari persyaratan pemenuhan hutan kota seluas 10% dari luas kota sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota atau Permen Kehutanan No. 71 Tahun 2009. 6) Pertanian, terjadi penurunan luas lahan pertanian 5 tahun terakhir sebesar + 196,17 Ha. Dalam pedoman umum adaptasi perubahan iklim sektor pertanian (2011), salah satu upaya adaptasi perubahan iklim ialah dengan mempertahankan dan memperluas areal pertanian. 7) Permukiman kumuh, sebaran lokasi permukiman kumuh cenderung berada di kawasan bantaran sungai dan rel di 29 kelurahan di Kota Malang dengan luasan mencapai ± 608 Ha. Hasil riset menyatakan bahwa adanya permukiman kumuh dapat memperburuk dampak perubahan iklim yaitu banjir dan ancaman kesehatan. 8) Kawasan rawan dan risiko bencana, terdapat kawasan risiko banjir di Kota Malang, dengan kawasan risiko banjir tingkat tinggi seluas ± 2.555,6 Ha dan tingkat risiko sangat tinggi seluas ± 2.053,3 Ha. Pada kawasan tersebut belum terdapat kebijakan khusus mengenai antisipasi risiko banjir khususnya tindakan penghijauan, ilfiltasi, normalisasi sungai dan pemanfaatan ruangnya.

Dampak perubahan iklim yang terjadi di Kota Malang dapat di adaptasi dengan perencanaan struktur ruang atau pola ruang yang baik. Oleh karena itu adaptasi pada tata ruang perlu dilakukan, salah satu adaptasi pada tata ruang tersebut dapat dilakukan dengan rencana pola ruang. Terdapat beberapa jenis pemanfaatan ruang eksisting di Kota Malang yang belum sesuai dengan upaya adaptasi perubahan iklim, yaitu pada guna lahan pertanian, permukiman kumuh, kawasan rawan dan risiko bencana, serta RTH baik hutan kota, sempadan sungai, sempadan SUTT, maupun sempadan rel kereta api. Rekomendasi pola ruang Kota Malang berdasarkan urutan prioritas dalam adaptasi perubahan iklim yaitu : 1) Pengembalian fungsi sempadan sungai sebagai RTH, 2) Pengembalian sempadan rel kereta api sebagai RTH, 3) Pemenuhan luasan minimal hutan kota 10% dari luas wilayah kota, 4) Pemenuhan RTH publik 20% dari luas wilayah kota yang tersebar merata, 5) Pengembalian fungsi sempadan SUTT sebagai RTH, 6) Penghijauan dan pembuatan kolam detensi pada kawasan rawan banjir, 7) Penataan permukiman kumuh, 8) Mengembalikan  rencana pemanfaatan lahan pertanian di pinggiran Kota Malang, serta 9) Mempertahankan lahan pertanian eksisting.

Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau di kawasan sempadan sungai, sempadan rel kereta api, sempadan SUTT, pemenuhan kebutuhan hutan kota serta penghijauan di kawasan resiko banjir merupakan upaya meminimalkan dampak perubahan iklim dalam menjaga iklim mikro (suhu udara) di Kota Malang. Karena sesuai dengan fungsi ekologis RTH yaitu menyerap gas CO2, pelepasan gas O2 serta penyerapan air. Penataan permukiman kumuh bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya masalah kesehatan pada masyarakat seperti wabah malaria dan demam berdarah sebagai akibat perubahan iklim yang rentan terjadi di lingkungan permukiman kumuh. Rekomendasi pada pertanian bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Pemerintah Kota Malang kedepannya harus memberikan porsi lebih pada aspek lingkungan dalam penetapan kebijakan pola ruang. Selain itu, pemerintah harus tegas dalam pemenuhan dan implementasi peraturan seperti syarat pemenuhan luas minimal RTH yang harus disediakan, hutan kota, mengembalikan fungsi kawasan sempadan sungai sebagai kawasan perlindungan setempat, mengembalikan fungsi serta menata kawasan sempadan rel serta sempadan SUTT. Partisipasi masyarakat dilakukan dengan senantiasa menjaga kelestarian lingkungannya, tidak melanggar peraturan dengan tidak membangun di kawasan sempadan sungai, sempadan rel kereta api, sempadan SUTT serta kawasan resapan air. (AS)

2 comments

  1. Saya tertarik sekali dengan bahasan artikel yang seperti ini. Karena, beberapa minggu yang lalu, saya dan dua teman saya usai mengikuti sebuah karya tulis ilmiah dengan tema besarnya adalah”perubahan iklim”. Ringkasnya, saya ingin bercerita sebentar. Saya bukan orang malang, saya adalah anak rantauan. Meskipun barulah dua tahun saya singgah di Malang, dampak dari perubahan iklim telah saya rasakan nampaknya. Malang tidak sedingin dulu, “waktu pertama kali saya tiba dimalang”. Kadang panas, kadang hujan bahkan banjir telah saya alami disinggahan ini. Setelah saya membaca artikel ini, saya ingin menyampaikan sedikit saran untuk penulis. Mungkin akan sangat baik bila artikel ini ditambahkan dengan, “apakah malang menjadi salah satu kota yang menyumbang emisi gas rumah kaca sekian % dari kendaraan bermotor/industri, karena seperti yang kita ketahui penyebab perubahan iklim adalah meningkatnya emisi gas rumah kaca” salah satunya dari CO2. Tambahan bahasan yang singkat seperti ini, insyaallah lebih dapat mengetuk hati pembaca, bahwasannya perubahan iklim itu terjadi secara perlahan karena kita (penggunaan kendaraan bermotor/adanya pabrik industri). Sehingga, akan ada solusi pilihan untuk mengurangi penyebab perubahan iklim tersebut: 1. Bagaimana mengurangi penggunaan kendaraan bermotor yang menghasilkan CO2 sekian % dan 2. Mengurangi CO2 sekian % di udara dengan mengembalikan RTH.

    • Terimakasih atas sarannya. brbrp penelitian ttg emisi gas rumah kaca dan kontribusi dari kegiatan apa saja dgn salah satunya sektor transportasi. Smg bisa melengkapi cerita perubahan iklim di Kota Malang secara utuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*