Pinned

Sisakan Warga yang Trauma dengan Pantai hingga Bunyi Ledakan…..catatan perjalanan menyalurkan donasi ke Kab Sigi

Waktu seolah berjalan lambat bagi warga Palu-Sigi-Donggala. Pascagempa berkekuatan 7,4 skala Richter (SR) yang disertai tsunami dan likuifaksi pada 28 September 2018, tiga kota/kabupaten di wilayah Sulawesi Tengah itu belum sepenuhnya pulih.

Bau cat yang menyengat ”menyambut” wartawan koran ini serta dua perwakilan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) Aris Subagiyo dan Kharisma Mahardika begitu menginjakkan kaki di terminal kedatangan Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, Palu, Selasa malam (25/6). Saputan plamir juga terlihat di sejumlah dinding bandara. Menutupi bekas-bekas retakan yang disebabkan oleh gempa.

Pada 28 September 2018, Bandara Mutiara SIS Al-Jufri memang menjadi salah satu lokasi terdampak gempa dan tsunami. Bandara yang namanya diambil dari nama pahlawan nasional Sulawesi Tenggara, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, itu bahkan sempat lumpuh total. Bekas-bekas kedahsyatan bencana alam juga masih terlihat di banyak tempat lainnya. Seperti kawasan bisnis di sepanjang Jalan Diponegoro masih belum menemukan geliatnya seperti sebelum tsunami menerjang.

Palu Grand Mall, pusat perbelanjaan modern di Kota Palu, memang sudah buka. Tapi, stan-stan yang buka di dalam mal itu bisa dihitung dengan jari. Sementara sebagian besar ruko di kawasan itu juga masih tutup. Sebagian bangunannya, ada yang ambruk atau setengah ambruk dibiarkan hingga saat ini.

Kala malam, Palu tak ubahnya kota ”setengah mati”. Kondisi pun diperparah dengan belum nyalanya sebagian besar penerangan jalan umum (PJU). Infrastruktur jalan juga belum benar-benar pulih. Kami sempat menyusuri Jalan Trans Palu, antara Kota Palu–Kabupaten Sigi, kemarin (26/6).

Jalur itu juga melintasi Dusun Jono Oge, Kabupaten Sigi, sebuah dusun yang hilang akibat likuifaksi. Sepanjang mata memandang, yang terlihat adalah hamparan rumput. Di dusun itu bahkan hanya terlihat satu rumah yang masih berdiri. Meski bangunannya terlihat lumayan utuh, tapi kondisinya sudah nyaris ambruk. ”Dulunya, di sini ada banyak rumah,” kata Sucipto, ketua takmir Masjid At-Tartib yang mengantarkan kami dari Palu ke Sigi.

Sebuah jembatan yang hancur di dusun itu juga belum dibenahi. Alhasil, pengguna jalan masih harus menyeberangi sungai. ”Untungnya arus sungai sedang kecil sekarang ini,” kata pria kelahiran Banyuwangi yang sudah lebih dari dua dekade menetap di Sigi itu.

Tak cuma jembatan, kondisi sebagian besar Jalan Trans Palu juga masih belum bisa dikatakan layak. Jalannya berkelok-kelok, juga bergelombang. Ada pula yang aspalnya sudah hancur. ”Padahal, dulu sebelum gempa, ini jalannya lurus-rus dan mulus,” kata dia.

Sekali lagi, Palu-Sigi-Donggala memang belum sepenuhnya pulih. Pun demikian, banyak warga yang belum bisa melupakan bagaimana dahsyatnya ”kiamat kecil” pada 28 September 2018 itu. ”Kalau saya sendiri, bisa dibilang itu mbah’e trauma. Beberapa waktu lalu, ada bunyi ledakan. Saya langsung lari ke luar rumah karena tak pikir ada gempa lagi. Ternyata itu bunyi ledakan amunisi,” ujarnya.

Sama seperti Sucipto, Azri juga masih begitu trauma dengan kejadian yang disebutnya mirip dengan scene-scene film ”2012” itu. Apalagi, saat bencana itu menerjang, Azri tengah berada di Pantai Talise, Teluk Palu. Azri menjadi salah satu panitia Festival Palu Nomoni. ”Sebelum kejadian, saya sedang pasang backdrop panggung,” kata pemuda berusia 26 tahun ini.

Dia pun naik ke tiang-tiang panggung untuk memasang backdrop itu. Ketika dia berada di atas, bumi pun berguncang begitu hebatnya. ”Saya sempat mengira itu adalah embusan angin kencang. Saya heran, kenapa tiang ini terus bergoyang,” ujar dia.

Tapi, tak lama, Azri tersadar bahwa itu adalah gempa. Saat itu yang terlintas dalam pikirannya adalah ”tsunami”. Dia pun berlari sejauh mungkin meninggalkan pantai. ”Saya berlari di jalan yang retak, jalan yang terbelah. Ada jalan yang tiba-tiba naik ke atas, ada yang turun ke bawah. Rasanya seperti adegan film ’2012’,” ujar dia.

Dia pun masih ingat betapa paniknya orang-orang kala itu. Berusaha berlari menyelamatkan diri. ”Saya sempat melihat ada petugas dishub yang kakinya patah. Dia tak bisa lari. Ada temannya yang tak mau meninggalkan dia sendirian. Berusaha untuk menggendong. Belakangan, saya tahu ada informasi dua petugas dishub itu tewas,” kata pemuda yang kini bekerja di Brizky Hotel itu.

Saat dirinya lari, Azri sempat dihentikan seorang polisi. ”Dia bilang tenang-tenang. Jangan lari, tidak mungkin ada tsunami, karena ini teluk,” ujar dia.

Tapi, Azri tak mau percaya begitu saja. Sebab, dia tahu bahwa tsunami pernah menerjang Teluk Palu pada 1930-an silam. ”Saya pernah ikut komunitas sejarah. Dari situ saya tahu bahwa di tempat ini dulu pernah ada tsunami,” kata dia.

Pengetahuan itulah yang menyelamatkan Azri. Dia selamat setelah berlari ke dataran yang lebih tinggi. ”Saya di sana sampai tiga hari,” ujar dia.

Pasca bencana besar itu, saking traumanya, Azri sampai enggan melihat pantai. Karena alasan itulah, Azri memilih untuk tidak mencari sepeda motornya yang tertinggal di Pantai Talise.  Sampai saat ini, Azri tidak tahu apakah sepeda motornya hanyut terbawa air laut atau ada yang menemukannya. ”Teman saya banyak yang kembali untuk mencari motornya. Banyak yang ketemu. Tapi, saya tidak mau. Biar saja,” kata pemuda asal Polewali Mandar ini.

Dia pun berharap, tak ingin lagi menjumpai bencana seperti itu di sisa hidupnya. ”Lebih baik saya mati daripada harus melihat dan merasakan peristiwa seperti itu lagi,” pungkas dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*