Pinned

Pembaca Radar Malang dan FT UB Bangun Satu Masjid

Memulihkan Palu-Sigi-Donggala seperti sediakala pascagempa dan tsunami sembilan bulan lalu tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Jawa Pos Radar Malang bersama Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) termasuk yang sedikit meringankan beban warga di Kabupaten Sigi. Berikut laporan wartawan koran ini, Indra Mufarendra yang baru saja berkunjung ke sana.

”Jujur, bencana itu masih membuat saya trauma. Tapi, kalau gak ada bencana itu, mungkin saya gak akan kenal dengan Sampean-Sampean ini. Sampean mungkin juga gak akan pernah berkunjung ke daerah ini,” kata Ketua Takmir Masjid At-Tartib, Sucipto, di dalam mobil, di tengah perjalanan dari Kota Palu menuju Kabupaten Sigi Rabu (26/6).

Ya, gempa bumi disertai tsunami dan likuifaksi memang terjadi begitu dahsyat. Peristiwa pada 28 September 2018 itu mungkin akan lama diingat. Terutama oleh warga Palu, Sigi, dan Donggala.

Apalagi, sisa-sisa kedahsyatan bencana itu masih bisa dilihat sekarang ini. Sembilan bulan pascagempa yang meluluhlantakkan banyak titik, di tiga kota/kabupaten di wilayah Sulawesi Tengah itu.

Tak terkecuali di Desa Sidera, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Dengan menggunakan mobil, wilayah ini bisa ditempuh dalam satu jam perjalanan.

Harusnya bisa lebih cepat. Namun, perjalanan melambat karena ada sejumlah titik jalan yang masih rusak parah. Termasuk jalan di Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi, yang sebuah dusunnya ”hilang” karena likuifaksi.

Di Desa Sidera, sebagian bangunannya rusak akibat gempa. Tingkat kerusakannya beragam. Ada yang rusak ringan, hanya retak-retak di bagian dindingnya. Ada pula yang rusak berat, sampai ambruk.

Nah, Masjid At-Tartib menjadi salah satu bangunan yang mengalami kerusakan parah. Tak lama setelah gempa, bangunan masjid pun dibersihkan. Sebagai gantinya, didirikanlah bangunan masjid semipermanen. Bahannya galvalum.

Ada dua bangunan sekaligus yang didirikan. Masing-masing berukuran sekitar 7×10 meter. Satu dibangun oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI), dan satu lagi oleh TNI-AU. Dua bangunan itu bisa menampung sekitar 200 jamaah.

Pascagempa, bantuan demi bantuan mengalir untuk Masjid At-Tartib. Pembangunan masjid baru sudah dimulai sejak Januari 2019. Rangka baru hasil donasi dari pengusaha dari Jombang pun sudah berdiri.

Setelah sempat tertunda selama beberapa waktu, pembangunan masjid baru At-Tartib akan segera dimulai dalam waktu dekat ini. Pembangunan akan memanfaatkan dana donasi dari pembaca Jawa Pos Radar Malang dan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB). Nilainya Rp 900 juta lebih.

Nah, kedatangan Jawa Pos Radar Malang beserta perwakilan dari FT UB Aris Subagiyo dan konsultan arsitek Kharisma Mahardika ke Sigi Rabu (26/6) menjadi salah satu bagian dari tahapan pembangunan Masjid At-Tartib.

Ditemani ketua dan beberapa anggota takmir Masjid At-Tartib, tim dari Jawa Pos Radar Malang-FT UB melihat langsung kondisi fondasi dan rangka. Ada sedikit penyesuaian terkait desain.

Masjid baru At-Tartib itu memiliki luas bangunan 10×16 meter. Desainnya memadukan gaya arsitektur Nusantara dengan Timur Tengah. Tepat di bagian tengah bangunan, akan ada kubah berdiameter 1,5 meter.

”Untuk kubah, kami sudah berkomunikasi dengan pembuat kubah di Kediri. Untuk beberapa bagian masjid memang harus didatangkan langsung dari Jawa karena di sini (Sulawesi) itu tidak ada,” ujar dia.

Selain satu kubah besar, masjid baru nantinya juga memiliki dua kubah kecil. Dua kubah itu akan dipasang di dua menara kecil yang menyatu dengan bagian masjid.

Sempat ada rencana untuk memasang satu kubah lagi di bagian mihrab. Tapi, rencana itu dibatalkan, mengingat posisi masjid membuat kubah di bagian mihrab itu tidak begitu kelihatan.

Untuk teknis pembangunannya nanti, masjid baru At-Tartib akan memanfaatkan tukang-tukang lokal. Namun, tetap akan terus dipantau oleh tim Jawa Pos Radar Malang-FT UB.

Begitu pun untuk pendanaan, akan terbagi dalam beberapa termin. Untuk tahap pertama, akan dicairkan dana Rp 200 juta. ”Nantinya, ketika dana itu mau habis, pihak takmir harus segera melapor pada kami. Biar kami segera mencairkan termin selanjutnya,” kata Aris.

Lantas, berapa lama target pembangunan Masjid At-Tartib yang baru? ”Karena fondasi sudah ada dan rangka sudah ada, estimasinya bisa selesai dalam 3–4 bulan,” ujar Mahardika.

Melihat estimasi itu, sangat mungkin masjid bisa selesai di akhir September. Atau tepat satu tahun setelah gempa menerjang Palu-Sigi-Donggala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*