Pinned

Mengurangi Ketimpangan, Mendorong Pembangunan : Ironi Potret Beranda Negara

Apa yang terbesit di benak anda tatkala mendengar kata “kesenjangan”? bisa jadi itu adalah perbedaan, keadaan yang timpang, atau mungkin yang lainnya. Jelas, ketika terjadi kesenjangan maka ada jurang pemisah yang menganga antara keadaan yang satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain terjadi “ketidakmerataan”. Itulah PR besar pemerintah kita dalam membangun Indonesia kedepan. Berhasil tidaknya pembangunan Indonesia salah satu parameternya adalah menurunkan kesenjangan. Kesenjangan yang terjadi terlihat adanya perbedaan antara kemajuan satu daerah dengan daerah lainnya. Pembangunan antar wilayah cenderung tidak merata. Wilayah di Jawa terus berkembang dan maju sangat merasakan gegap gempita pembangunan. Kondisi sebaliknya terjadi di beranda negara, masih tertinggal, masih butuh sentuhan pembangunan dan sangat membutuhkan perhatian. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah setiap warga negara memiliki hak yang sama, termasuk hak untuk hidup secara layak? Lalu mengapa masih ada dua potret yang jauh berbeda tapi sama-sama berjalan seiring waktu? Sudah saatnya pembangunan Indonesia harus mampu menyejahterkan masyarakat tanpa memandang wilayahnya salah satunya. Jawa dan luar jawa sama-sama menjadi bagian NKRI yang harus dimajukan melalui pembangunan.

Kesenjangan merupakan Masalah Menahun

Masalah kesenjangan di Indonesia bukan menjadi hal baru, bahkan sejak dari pemerintahan Orde Baru. Pembangunan yang dilakukan secara sentralisasi menjadikan daerah yang notabene bukan ”pusat” pengembangan tidak termasuk dalam program prioritas pembangunannya sehingga menjadi terbelakang. Terlihat pada tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah yang cenderung lambat, angka kemiskinan terus meningkat dan dukungan infrastruktur terbatas. Hal tersebut memperparah kondisi kesenjangan antar wilayah di Indonesia. Walaupun sekarang sudah diterapkan sistem otonomi daerah, dengan keleluasaan daerah untuk mengelola wilayahnya sendiri, akan tetapi kesenjangan tetap belum dapat teratasi. Otonomi baru telah memunculkan masalah baru. Peran kepala daerah untuk bisa memajukan dan menyejahterakan masyarakatnya tidak bisa optimal. Lebih mementingkan keluarga dan golongannya, upaya melanggengkan kekuasaan, kurang inovatif, merupakan koreksi penting terhadap peran mereka.

Pembangunan harus Merata dan Adil

Karena adil bukan berarti seluruh, tapi menyoroti yang butuh. Pernyataan tersebut dimaksudkan bahwa adil harus mempertimbangkan aspek kebutuhan dalam pembangunan pada wilayah-wilayah yang ada. Pembangunan yang dimaksud yaitu seperti perbaikan infrastruktur dasar. Aksesibilitas yang rendah menjadi salah satu faktor lambatnya pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dikarenakan untuk mencapai wilayah tersebut diperlukan waktu dan biaya lebih, atau ketika pendistribusian produk hasil wilayah tersebut untuk dijual ke wilayah lain atau ke lokasi pengolahan akan tetapi memerlukan biaya lebih dikarenakan akses jalan yang buruk di wilayah tersebut. Keterbatasan jaringan jalan membuat masyarakat juga terbatasi dalam mobilitasnya sehingga tidak dapat melakukan kegiatan sosial ekonomi secara optimal. Pembangunan infrastruktur jalan juga diharapkan dapat membentuk konektivitas antar wilayah yang nantinya dapat mendukung distribusi dan pemerataan penduduk, sehingga nantinya dapat memicu pertumbuhan pusat-pusat wilayah baru yang menyebar terutama di wilayah-wilayah yang masih tertinggal.

Selain jaringan jalan, jaringan air bersih juga diperlukan untuk mendukung kehidupan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air bersihnya. Penggunaan jaringan perpipaan dengan kualitas air yang lebih baik dan juga lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan penggunaan air non perpipaan juga perlu dipertimbangkan. Sistem persampahan dan sanitasi yang baik juga sangat diperlukan untuk menunjang kehidupan masyarakat yang sejahtera dan sehat. Oleh karena itulah, infrastruktur dasar menjadi kunci utama dalam perbaikan pengurangan kesenjangan antar wilayah. Harapannya, dititik dimana masyarakat memulai aktivitasnya, maka dititik itu dilakukan perbaikan, sehingga dititik itulah pembangunan terjadi dan tepat sasaran. Sarana-sarana vital seperti pendidikan dan kesehatan juga menjadi hal yang penting dan sangat diperlukan penduduk. Perbaikan sarana yang kurang layak dan penambahan sarana juga harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan masyarakat, menuju masyarakat yang bersejahtera. Memajukan SDM maka akan semakin meningkatkan kreativitas masyarakat untuk bisa mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam yang ada di wilayah. Harapannya potensi sumber daya alam bisa diolah, bisa memberikan nilai tambah, kegiatan pengolahan bisa membuka lapangan kerja baru dan muaranya pada peningkatan ekonomi masyarakat.

Peningkatan Kualitas SDM, Pengelolaan SDA

Pemanfaatan sumber daya alam akan optimal jika dilakukan oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Pemanfaatan yang optimal bukan berarti terjadi eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, akan tetapi pemanfaatan yang mempertimbangkan aspek lingkungan. Tidak semata-mata mengejar keuntungan sosial ekonomi, sumber daya alam harus dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sekarang dan untuk generasi mendatang. Setiap wilayah memiliki potensi sumber daya alam masing-masing, yang tentunya dapat dimanfaatkan sehingga tanpa perlu menggantungkan diri pada wilayah lain. Potensi sektoral sangat beragam, bisa saja pertaniannya, kelautannya, pertambangannya maupun pariwisatanya. Sebagai contoh sektor pertanian, dengan komoditas yang merupakan produk unggulannya. Komoditas unggulan yang dikembangkan setidaknya tidak hanya dijual mentah akan tetapi sebisa mungkin ada proses pengolah, sehingga nilai tambah produk bisa diterima masyarakay lokal. Potensi komoditas lokal dapat diperkuat dengan branding sehingga menambah orisinilitas komoditas lokal tersebut. Strategi marketing yang baik dapat menambah pasar penjualan komoditas, bahkan bukan tidak mungkin produk lokal dapat diekspor hingga ke luar negeri. Selain pengembangan sumber daya alam, hal lain yang harus dilakukan adalah pengembangan kualitas sumber daya manusianya, karena siapa lagi pelaku dari kegiatan ekonomi tersebut kalau bukan penduduk wilayah tersebut. Sering kita jumpai wilayah dengan sumber daya alam yang melimpah, akan tetapi penduduk setempat tidak dapat menikmati hasil dari sumber daya alam tersebut. Oleh karena itulah, pemberdayaan dan pengembangan kapasitas penduduk perlu dilakukan, salah satunya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan yang menunjang pengolahan potensi sumber daya alam. Apabila Pemanfaatan kuantitas sumber daya alam sudah optimal dan juga diiringi dengan pengembangan kualitas sumber daya manusia, akan menjadi sangat mungkin wilayah tersebut akan menjadi wilayah yang mandiri dan dapat menggerakkan roda perekonomian di wilayah tersebut. Harapannya, pertumbuhan ekonomi dapat terjadi dan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

Penguatan Peran Desa dan Kota

Desa dan kota sering disalahartikan sebagai dua kawasan yang terpisah dan tidak memiliki hubungan apapun. Padahal sebaliknya, antar desa dan kota memiliki hubungan yang kuat yang berimbas pada pertumbuhan ekonomi kedua wilayah tersebut. Simbiosis mutualisme antara desa dan kota harus diciptakan. Jangan sampai kota semakin maju dan desa semakin tertinggal. Padahal di desa lah terdapat sumber daya alam, sumber produk-produk, serta penyedia tenaga kerja, sedangkan kota adalah salah satu pasar penjualan bagi produk lokal desa dan sebagai penyedia lapangan pekerjaan. Peran antar kedua kawasan tersebut perlu diperkuat agar tidak timpang dan pertumbuhan ekonomi dapat terjadi di keduanya. Selain itu, kerja sama antar desa dan kota perlu dilakukan untuk menunjang hubungan antar desa-kota tersebut. Salah satu dampak terjadinya hubungan antara desa dan kota adalah tingkat urbanisasi yang meningkat dari tahun ke tahun. Urbanisasi tidak selamanya diperlukan manakala desa sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya. Oleh karena itu, diperlukan penguatan peran desa juga sebagai tempat penyedia kesejahteraan, sebagai contoh, pengaplikasian teknologi-teknologi maju pada pertanian agar tingkat produktivitas meningkat, sehingga dapa menekan laju urbanisasi dan membuat penduduk melakukan kegiatan ekonomi cukup di desa, tanpa harus mencari kerja ke kota.

Institusi Pemerintah yang Inovatif 

Sebagai stakeholder yang berperan besar terhadap pembangunan daerah, sudah sepatutnya setiap institusi pemerintah terutama pemerintah daerah perlu meningkatkan kapasitasnya. Pemerintah harus benar-benar paham permasalahan di wilayahnya sendiri, apa faktor utama penyebab wilayah kurang berkembang sehingga dapat mengatasi permasalahan tersebut dengan tepat sasaran. Institusi juga harus mampu menemukan potensi yang nantinya dapat dijadikan peluang baru dalam pengembangan wilayah dan memicu pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Inovasi-inovasi pembangunan yang disesuaikan dengan potensi lokal perlu dilakukan sehingga kedepannya dapat menunjang kebutuhan masyarakat sekitar tanpa perlu bergantung pada wilayah lain. institusi juga diharap dapat melakukan tugasnya dengan tepat dan tegas pada pembangunan-pembangunan yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan. Setiap solusi yang telah diberikan, tidak akan mampu tercapai apabila tanpa dukungan semua yang terlibat dalam pembangunan itu sendiri, baik pemerintah, stakeholder, dan masyarakat. Ketiga subyek pembangunan tersebut harus memiliki satu visi dan tujuan agar pembangunan yang dilakukan dapat terselenggara dengan baik.

Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang menjawab kebutuhan setiap lapisan masyarakat, tanpa lebih dan tanpa kurang. Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang sama rata, sesuai kebutuhan dan kekurangan tiap wilayah. Pembangunan yang baik tidak perlu dilakukan secara serentak di semua wilayah, akan tetapi melakukan prioritas pembangunan kepada wilayah-wilayah urgent, sehingga ketika pembangunan seluruh wilayah yang membutuhkan sudah dilakukan, kita dapat melihat sebuah kesamarataan. Pembangunan yang baik bukan memperindah kota menjadi semakin berkilau, tetapi menghidupkan apa yang sebelumnya hampir “mati”, sehingga seluruh wilayah di Indonesia, menjadi sama-sama hidup. Dari antar wilayah yang senjang, menjadi lebih berimbang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*