Pinned

MENGAMANKAN PULAU SEBATIK SEBAGAI PULAU TERLUAR, BERANDA TERDEPAN NKRI

Pengamanan kawasan pulau terluar menjadi perhatian pemerintah sejak beberapa tahun terakhir terutama setelah terjadi sengketa pulau Sipadan dan Ligitan antara Indonesia dengan Malaysia pada tahun 1998. Namun sayangnya pada tahun 2002 kasus ini diakhiri dengan sidang keputusan mahkamah internasional dan Indonesia tidak berhak atas kedua pulau tersebut. Pasca tragedi lepasnya pulau terluar tersebut, Pemerintah Indonesia berupaya memperkuat kedaulatan dengan menyusun peraturan tentang perlindungan-perlindungan pulau terluar. Melengkapi aturan yang sudah terbit sebelumnya, pada tahun 2017 kembali ditetapkan peraturan berupa Keputusan Presiden No. 6 Tahun 2017 tentang Penetapan Pulau-pulau Kecil. Keluarnya Keppres dengan alasan adanya permasalahan serta tantangan yang terus mengancam batas kedaulatan NKRI. Ditetapkan 111 pulau terluar yang dilengkapi dengan nama lain pulau, letak perairan, koordinat lintang bujur, titik dasar dan petunjuk dasar garis pangkal.

Tantangan Kedepan

Tantangan terkait perlindungan dan pertahanan pulau-pulau terluar Indonesia adalah terkait kepentingan pengelolaan kekayaan sumber daya alam yang diincar oleh negara tetangga. Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Australia yang secara diam-diam mengincar sumber daya alam dari Indonesia seperti minyak bumi, batu bara, pertambangan, komoditas perkebunan, perikanan dan sumber daya alam lain. Pulau Sebatik sebagai bagian dari pulau terluar di Provinsi Kalimantan Utara menjadi contoh menarik. Pulau Sebatik yang terletak di Laut Sulawesi pada koordinat lintang dan bujur 04o 09’ 34’’ U 117o 56’ 26’’ T sampai 04o 10’ 10’’ U 117o 54’ 29’’ T menjadi bagian dari Kabupaten Nunukan. Terbagi menjadi dua wilayah administratif yakni sebagian wilayah Sabah Malaysia Timur pada sisi utara, dan sisi selatan merupakan wilayah Indonesia dengan luas 247,47 km2. Pusat aktivitas ekonomi Pulau Sebatik terletak di Desa Sungai Nyamuk. Akses untuk menuju pusat Kabupaten Nunukan dibutuhkan waktu satu setengah jam dengan menyeberang menggunakan transportasi air. Jika menggunakan transportasi darat waktu tempuhnya 3-4 jam untuk sampai ke pusat Kabupaten Nunukan. Potensi perairan dengan terumbu karang, mangrove, pariwisata, sumber daya perikanan tangkap, dan budidaya perikanan.  Infrastruktur penunjang untuk mengelola potensi tersebut terdapat satu pelabuhan speed boat yang rutenya menuju Kota Tawau dan Kota Tarakan, serta terdapat empat hotel untuk menunjang kegiatan pariwisata lokal. Penduduk didominasi oleh Suku Tidung serta pendatang dari Sulawesi. Dalam keseharian masyarakat memenuhi kebutuhan dari Sabah Malaysia, bukan dari Kabupaten Nunukan dengan menggunakan mata uang ringgit. Dalam mengakses ke Tawau masyarakat juga menggunakan transportasi air berupa speed boat sama seperti jika ingin berkativitas ke Nunukan. Namun masyarakat lebih memilih untuk beraktivitas ekonomi (perdagangan) untuk memenuhi kebutuhan di Malaysia Timur daripada ke Nunukan. Ternyata preferensi belanja masyarakat dipengaruhi oleh adanya selisih harga barang yang lebih mahal dijual di Nunukan diibandingkan dengan di Tawau. Harga barang-barang kebutuhan pokok di Tawau relatif lebih murah daripada di Nunukan. Sehingga masyarakat lebih memilih berbelanja ke Tawau untuk memenuhi kebutuhan pokok dibandingkan harus ke Nunukan, walaupun aksesibilitas serta waktu tempuh untuk mengakses Nunukan dan Tawau hampir sama. Latar belakang budaya juga menjadi faktor mengapa kegiatan ekonomi lebih mengarah ke Sebatik bagian utara. Penduduk Pulau Sebatik Indonesia-Malaysia merasa bahwa mereka merupakan suatu kesatuan masyarakat dan batas administrasi tidak mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi dan budaya sehari-hari. Mungkin bagi masyarakat hal tersebut dianggap bukan masalah. Namun hal tersebut merupakan ancaman bagi negara Indonesia karena penduduk Indonesia yang seharusnya dilayani oleh negara dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok lebih memilih untuk berkegiatan ke negara tetangga. Kerugian yang dirasakan bangsa Indonesia yaitu dari segi ekonomi adalah perputaran uang terjadi di Malaysia padahal masyarakat Sebatik merupakan WNI dan terlibat pelaku kegiatan ekonomi di Malaysia. Kerugian yang dialami bukan hanya dari segi ekonomi namun dari segi kedaulatan negara. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, negara tetangga bisa jadi mengambil kesempatan dengan keadaan ini dan mengklaim kedaulatan negaranya atas Pulau Sebatik. Jangan sampai kejadian konflik Sipadan-Ligitan terulang kembali hanya karena pemerintah kurang memperhatikan kesejateraan penduduk pulau terluar.

Langkah-langkah Pengamanan Pulau-pulau Terluar

Untuk mengantisipasi terjadinya konflik antar negara, Pemerintah Indonesia pada tahun 2015 melakukan sertifikasi terhadap pulau-pulau terluar dan menyampaikan kepada mahkamah internasional agar tidak terjadi sengketa atau konflik dengan negara tetangga. Sertifikasi tersebut dilakukan pada pulau yang berpenghuni maupun tidak berpenghuni dengan target 95 pulau terluar sudah mendapatkan sertifikasi dari Mahkamah Internasional. Selain itu pemerintah juga menyusun sistem informasi pulau-pulau terluar atau pulau kecil yang bisa di akses secara online melalui web site kementerian perikanan dan kelautan direktori pulau-pulau kecil Indonesia. Informasi yang ditampilkan antara lain gambaran umum pulau, potensi dari pulau tersebut, dan kendala pengembangan pulau tersebut. Hal ini bermanfaat juga untuk memperkenalkan pulau tersebut kepada seluruh masyarakat Indonesia agar masyarakat Indonesia merasa memiliki dan ikut mempertahakan pulau-pulau terluar tersebut. Program-program pemerintah yang mencanangkan pulau terluar atau kawasan perbatasan sebagai pintu masuk atau beranda negara juga telah dalam proses pelaksanaan. Contohnya dengan pembentukan Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) yang memiliki program kerja berupa melaksanakan Rencana Induk Kawasan Perbatasan 2015-2019, pembangunan jalan tol sepanjang garis batas negara Indonesia-Malaysia Timur di Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara, serta progam perbaikan infrastruktur, sarana prasarana dan pemberdayaan masyarakat di pulau-pulau terluar di Indonesia. Secara keseluruhan program-program yang dilakukan oleh pemerintah tersebut menggunakan pendekatan ekonomi yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat di pulau terluar dan kawasan perbatasan. Percepatan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi program prioritas. Tidak ketinggalan pendekatan keamanan juga dilakukan untuk menjaga stabilitas dan keamanan di pulau-pulau terluar dan di kawasan perbatasan. Dampak yang diharapkan dari program-program pemerintah dalam upaya perlindungan pulau-pulau terluar adalah masyarakat menjadi terpenuhi kebutuhan pokoknya dengan mengakses di negara sendiri.

Kesimpulan 

Disimpulkan bahwa permasalahan di pulau-pulau terluar di Indonesia adalah terjadinya perbedaan harga barang kebutuhan pokok yang sangat tinggi. Masyarakat Indonesia yang ada di Pulau Sebatik lebih memilih untuk melakukan kegiatan ekonomi di Kota Tawau Sabah Malaysia daripada Nunukan Kalimantan Utara. Walaupun aksesibilitas untuk menjangkau kedua tempat tersebut sama yaitu dengan moda transportasi laut (speed boat). Faktor sosial budaya juga mempengaruhi aktivitas perekonomian di Pulau Sebatik karena masyarakat merasa satu kesatuan nenek moyang yang satu rumpun sehingga tidak terlalu memperhatikan batasan administrasi negara. Untuk menanggulangi ancaman ancaman tersebut pemerintah melakukan dua pendekatan untuk perencanaan kawasan perbatasan dan pulau-pulau terluar yaitu pendekatan kesejahteraan masyarakat dan pendekatan keamanan. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia secara administrasi dan untuk mencegah terjadinya konflik dengan negara tentangga. Terkait perbatasan pemerintah juga mengupayakan pengajuan sertifikasi hak miliki pulau-pulau terluar di Indonesia kepada Mahkamah Internasional. Diharapkan pemerintah tidak hanya mengklaim pulau-pulau terluar sebagai miliki Indonesia tetapi juga disertai dengan peningkatan kesejahteraan kepada masyarakat pulau-pulau terluar serta keadilan dalam pembangunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*