Pinned

Membangun Perbatasan, Berantas Ketergantungan & Disparitas di Pulau Sebatik

Pulau Sebatik merupakan wilayah terdepan, terluar, dan tertingal (3T) yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Nunukan. Posisi Pulau Sebatik sebagai wilayah beranda depan NKRI yang langsung berbatasan dengan negara tetangga Malaysia (Sabah) dianggap sangat strategis dan menjadi kepentingan nasional sehingga menjadi salah satu daerah perbatasan prioritas untuk dikembangkan. Kondisi wilayah yang merupakan bagian terluar dari Indonesia menjadikan Pulau Sebatik memiliki berbagai masalah yang mampu menghambat perkembangan daerahnya. Masalah yang sering ditemui di sebagian besar pulau kecil terluar seperti Pulau Sebatik antara lain adalah kondisi aksesibilitas yang kurang dan cukup mengganggu pergerakan, kurangnya sarana prasarana dasar dan ekonomi, serta masyarakat yang lebih banyak berorientasi ke negara tetangga.

Sebatik memiliki masalah dari kondisi aksesibilitas baik dari darat, laut maupun udara. Letak wilayah yang jauh dari rentang kendali Provinsi Kaltara dan ketersediaan transportasi yang kurang merupakan masalah dalam pencapaian menuju wilayah Sebatik. Aksesibilitas di dalam Pulau Sebatik juga sulit karena kondisi sistem jaringan jalan antar seluruh kecamatan yang ada di Pulau Sebatik belum sepenuhnya terintegrasi satu sama lain, sehingga aksesibilitas antar desa di satu kecamatan atau akses antar kecamatan belum optimal terlayani. Rendahnya tingkat aksesibilitas kawasan Pulau Sebatik menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat untuk lebih memilih dan tergantung terhadap wilayah Malaysia dengan melakukan aktivitas sosial dan ekonomi ke wilayah Tawau Malaysia.

Kondisi dan ketersediaan sarana prasarana fasilitas sosial ekonomi yang terbatas juga menyebabkan kesulitan tumbuhnya ekonomi Sebatik layaknya Tawau. Pengaruh kondisi dan ketersedian sarana prasarana yang masih kurang menyebabkan ketergantungan masyarakat akan wilayah di sekitarnya, seperti halnya ketergantungan pada wilayah Ibu Kota Kabupaten Nunukan dan negara tetangga terutama pada wilayah Tawau (Malaysia). Kehidupan sosial ekonomi masyarakat Sebatik pada umumnya berkiblat ke wilayah Tawau, Malaysia. Hal ini disebabkan adanya infrastruktur yang lebih baik, sehingga ada pengaruh sosial ekonomi Tawau yang sangat kuat. Permasalahan-permasalahan aksesibilitas, kondisi sarana dan ketergantungan dengan wilayah lain banyak ditemukan di Pulau Sebatik seperti halnya Kecamatan Sebatik Timur dan Kecamatan Sebatik Tengah yang merupakan wilayah yang memiliki pengaruh kuat pada wilayah Sebatik.

Kecamatan Sebatik Timur merupakan wilayah yang menjadi pusat kegiatan untuk wilayah Pulau Sebatik. Beberapa fungsi wilayah Kecamatan Sebatik Timur adalah sebagai pusat pemerintahan tingkat kabupaten, pusat permukiman, dan pusat kegiatan yang diperuntukan untuk melayani seluruh Pulau Sebatik. Sedangkan Kecamatan Sebatik Tengah merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia menjadikan wilayah Sebatik Tengah sebagai jalur keluar masuknya orang dan barang baik dari Sebatik menuju ke wilayah Malaysia maupun sebaliknya.

HAMBATAN AKSESIBILITAS WILAYAH 

Aksesibilitas yang baik sangat penting untuk mendukung pertumbuhan wilayah Pulau Sebatik terutama pada jaringan jalan yang menjadi punghubung antar kecamatan. Jaringan jalan yang ada di Kecamatan Sebatik Timur dan Kecamatan Sebatik Tengah berfungsi sebagai jalur tranportasi aliran barang dan penumpang. Selain itu, fungsi jaringan jalan juga berperan untuk mempermudah aksesibilitas pada wilayah-wilayah yang masih terisolasi. Akan tetapi, kondisi aksesibilitas di Kecamatan Sebatik Timur dan Kecamatan Sebatik Tengah tergolong masih kurang. Kondisi jaringan jalan antar seluruh kecamatan yang ada di Pulau Sebatik sepenuhnya belum terintegrasi satu sama lain, sehingga aksesibilitas antar desa di satu kecamatan atau akses antar kecamatan belum sepenuhnya baik. Beberapa ruas jalan dan jembatan masih memerlukan peningkatan kualitas. Pada Kecamatan Sebatik Timur masih terdapat jalan yang belum teraspal dan hanya memiliki perkerasan agregat dan tanah sepanjang 23 km. Sedangkan pada Kecamatan Sebatik Tengah masih terdapat jalan yang belum di aspal sepanjang 58,5 km. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan oleh pemerintah dalam mendorong layanan infrastruktur yang handal. Kecamatan Sebatik Timur dan Kecamatan Sebatik Tengah juga memiliki masalah pada sistem transportasi. Belum tersedianya angkutan umum beserta kurangnya sarana pendukung sistem trasnportasi seperti terminal menjadi penyebab kurang optimalnya aksesibilitas. Pengembangan sistem trasnportasi juga dianggap masih lamban, sehingga diperlukan perbaikan sistem untuk mendukung percepatan pembangunan.

Kondisi aksesibilitas dari dan menuju ke Pulau Sebatik hanya dapat di tempuh melalui jalur laut. Sebatik merupakan daerah terluar dan sulit untuk mengakses menuju wilayah-wilayah lain di Kalimantan Utara. Saat ini untuk menuju Pulau Sebatik dapat ditempuh melalui Nunukan dan Tarakan dengan menggunakan speed boat. Berbeda aksesibilitas Pulau Sebatik dengan Tawau Malaysia tergolong cukup mudah karena faktor jarak yang lebih dekat. Selain itu, aktivitas Pulau Sebatik dan Tawau lebih tinggi bila dibandingkan dengan kondisi Sebatik dengan wilayah lain di Kalimantan Utara menjadi faktor mudahnya akses ke Sebatik dari Tawau Malaysia.

TERSENDATNYA LAYANAN FASILITAS UMUM

Kondisi sarana di Kecamatan Sebatik Timur di dominasi bangunan sarana dengan material permanen terutama pada sarana peribadatan, sarana pendidikan, dan sarana perdagangan berupa toko dan pusat perbelanjaan. Kondisi bangunan sarana dalam  keadaan baik tetapi masih terdapat sarana dengan bangunan yang rusak seperti pasar beberapa sarana warung dan sarana pendidikan. Selain dari material bangunan, fasilitas sarana juga tergolong cukup baik dan cukup lengkap walaupun masih terdapat beberapa sarana yang kekurangan fasilitas. Kekurangan fasilitas tersebut terdapat pada sarana kesehatan berupa klinik, dan sarana pendidikan. Sedangkan di Kecamatan Sebatik Tengah masih banyak terdapat sarana dengan material semi permanen dengan dinding bangunan berupa kayu. Sarana dengan material semi permanen yaitu sarana pendidikan di Desa Maspul, dan Desa Bukit Harapan serta sarana perdagangan berupa warung, toko dan pasar di seluruh desa. Untuk kondisi bangunan, masih banyak sarana dengan kondisi bangunan yang rusak seperti kerusakan pada jendela, pintu dan fasilitas belajar mengajar pada sarana pendidikan. Dari Kelengkapan fasilitas, juga masih banyak kekurangan yaitu masih belum terpenuhinya fasilitas pada sarana pendidikan dan sarana kesehatan.

KETERGANTUNGAN DENGAN NEGARA NEGARA TETANGGA

Faktor terbatasnya aksesibilitas dan kondisi sarana yang belum mampu memenuhi kebutuhan di wilayah Kecamatan Sebatik Timur dan Kecamatan Sebatik Tengah menyebabkan kedua wilayah tersebut memiliki ketergantungan dengan wilayah lain. Ketersediaan sarana yang tidak lengkap dengan kualitas fasilitas yang masih rendah menjadi faktor utama masyarakat masih bergantung wilayah lain dalam pemenuhan kebutuhannya.

Faktor wilayah negara tetangga yang lebih maju karena ketersediaan fasilitas yang memadai juga mendorong masyarakat Sebatik untuk mengakses dalam mendukung kegiatan sehari-hari. Wilayah yang menjadi tujuan masyarakat merupakan wilayah sudah memilki sarana prasarana dengan kondisi maju dan memiliki fasilitas yang sudah lengkap. Selain karena ketersediaan sarana, masyarakat juga melakukan pergerakan ke luar wilayah dikarenakan masih tingginya masyarakat yang menggantungkan hidupnya karena ketersedian lapangan pekerjaan yang lebih banyak berada di luar wilayah Pulau Sebatik. Terdapat 3 wilayah yang menjadi tujuan utama masyarakat untuk mendapatkan layanan sarana yang sesuai dengan kebutuhan yaitu Nunukan, Tawau Malaysia, dan Kota Tarakan. Untuk menuju ketiga wilayah tersebut, akses yang mudah dan dipilih oleh masyarakat adalah melalui jalur laut dengan menggunakan moda transpotasi berupa speed boat atau kapal dompeng yang merupakan kapal kayu kecil.

Masyarakat di Kecamatan Sebatik Timur dan Kecamatan Sebatik Tengah lebih memilih untuk mengakses sarana kesehatan diwilayah luar Pulau Sebatik dikarenakan faktor kelengkapan layanan fasilitas. Rumah sakit hanya tersedia pada wilayah yang menjadi Ibukota Kabupaten yaitu Nunukan. Selain pada wilayah Nunukan, masyarakat juga memiliki pilihan untuk mendapatkan layanan sarana rumah sakit di Tarakan dan Tawau. Faktor lainnya adalah masih kurangnya fasilitas klinik dan hanya tersedianya 1 sarana apotik di Pulau Sebatik sehingga membuat masyarakat masih harus mengakses sarana kesehatan di luar wilayah. Untuk masyarakat Kecamatan Sebatik Timur, wilayah yang menjadi tujuan utama untuk mendapatkan fasilitas kesehatan adalah wilayah Nunukan. Faktor jarak yang tergolong dekat yang menjadikan Nunukan sebagai pilihan pertama untuk mendapatkan layanan sarana kesehatan, terutama untuk sarana rumah sakit. Namun, bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan lebih serius, maka sebagian besar masyarakat akan memilih wilayah Kota Tarakan atau Tawau Malaysia. Sedangkan masyarakat Kecamatan Sebatik Tengah memilih wilayah tujuan utama untuk mendapatkan sarana kesehatan adalah Tawau Malaysia. Sedangkan Nunukan menjadi wilayah pilihan kedua masyarakat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan. Faktor kelengkapan fasilitas sarana yang menjadi faktor kedua wilayah tersebut dijadikan sebagai pilihan. Untuk sarana kesehatan yang menjadi tujuan masyarakat di luar wilayah Pulau Sebatik adalah sarana rumah sakit.

Sarana pendidikan di Kecamatan Sebatik Timur dan Kecamatan Sebatik Tengah belum optimal dalam melayani masyarakat, ketersediaan beberapa sarana yang dianggap masih kurang. Hal ini membuat masyarakat memilih untuk menyekolahkan anak-anak mereka diluar Pulau Sebatik. Wilayah yang menjadi pilihan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan di jenjang sekolah menengah adalah wilayah Nunukan dan Tawau. Sedangakan untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi, masyarakat memilih Kota Tarakan sebagai wilayah tujuan. Faktor ketersediaan sarana pendidikan yang baik, kelengkapan fasilitas pendidikan, kondisi sarana, serta kondisi wilayah yang mudah di jangkau membuat masyarakat memilih ketiga wilayah tersebut sebagai tujuan. Untuk sarana pendidikan yang menjadi tujuan masyarakat di luar wilayah Pulau Sebatik adalah SMA dan perguruan tinggi.

Sarana perdagangan yang ada di Kecamatan Sebatik Timur masih belum mampu melayani kebutuhan masyarakat, yaitu kurangnya kelengkapan barang yang ada di toko dan pusat perbelanjaan atau harga jual barang yang masih dinilai terlalu tinggi dari harga yang terdapat di wilayah lainnya. Faktor ini menyebabkan masyarakat memilih untuk berbelanja di luar Pulau Sebatik. Sarana yang menjadi tujuan adalah toko dan pusat perbelanjaan dengan skala yang lebih besar dari yang ada di Pulau Sebatik. Sedangkan wilayah tujuan masyarakat adalah Nunukan, karena wilayah tersebut merupakan wilayah yang lebih dekat serta biaya pengiriman barang dari Nunukan juga relatif lebih murah. Sedangkan untuk Kecamatan Sebatik Tengah faktor utamanya adalah masih kurangnya sarana perdagangan sehingga menyebabkan masyarakat memilih untuk mendapatkan sarana di wilayah lainnya. Untuk wilayah yang sering menjadi tujuan adalah wilayah Tawau Malaysia. Akses yang lebih mudah, harga yang lebih murah, kualitas barang yang lebih baik, serta ketersediaan barang yang lebih lengkap menjadi faktor utama masyarakat memilih Tawau sebagai tujuan utama. Bahkan untuk biaya transportasi menuju Tawau, masyarakat menganggap lebih murah daripada harus berbelanja ke Nunukan ataupun Kota Tarakan. Tujuan masyarakat berbelanja di Tawau adalah untuk mendapatkan barang-barang yang nantinya bisa di jual kembali di wilayah Indonesia. Barang-barang tersebut bisa berupa makanan dan minuman kemasan, kebutuhan pokok, tabung gas, daging, pakaian serta aksesoris. Barang yang sudah didapatkan di Tawau nantinya akan diangkut menggunakan speed boat atau kapal dompeng menuju ke dermaga yang terdapat di Desa Aji Kuning. Selain itu, Tawau juga dijadikan masyarakat sebagai tujuan masyarakat untuk menjual hasil buminya. Bukan hanya masyarakat dari Kecamatan Sebatik tengah saja, bahkan masyarakat dari kecamatan lainnya yang ada di Pulau Sebatik juga melakukan hal yang sama. Masyarakat menjual hasil buminya ke wilayah Tawau dikarenakan konsumsi di Sebatik tergolong rendah dan juga daya beli di Tawau lebih tinggi daripada jika dijual di wilayah lain seperti Nunukan ataupun Kota Tarakan.

Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi Pulau Sebatik tersebut memiliki dampak negatif yang dapat menyebabkan potensi kerawanan terhadap daerah tersebut. Oleh sebab itu perlu adanya pemenuhan sarana wilayah dengan tujuan agar seluruh kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi serta dapat mendukung adanya kestabilan pembangunan dan pengembangan wilayah perbatasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*