Pinned

KOTA MALANG, MENUJU KOTA KONSERVASI AIR: Menuntaskan Genangan, Berorientasi Keberlanjutan

Oleh:

Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS & Aris Subagiyo, ST, MT

 

Romantisme indah masa lalu Kota Malang masih lekat di benak generasi 1960an. Kota sejuk yang menjanjikan kehidupan ‘urban’ yang humanis, nyaman dan jauh dari problem perkotaan. Tak salah Kolonial Belanda memilih Kota Malang dengan dukungan lansekap eksotis di dataran tinggi 444 mdpl sebagai tempat pelesir dan peristirahatan. Situasi itu kini sudah mulai bergeser, pembangunan kota sangat masif dan mengancam kelestarian lingkungan. Jumlah penduduk yang nyaris menembus satu juta jiwa dengan tren pertumbuhan yang tinggi menjadi peringatan awal perlunya strategi jitu mengelola perkotaan berkelanjutan. Sumber daya air menjadi salah satu isu penting yang menarik dikaji sebagai implikasi dari pertumbuhan Kota Malang. Mengingat air merupakan sumber daya yang menguasai hajat hidup orang banyak dan kelangsungan kehidupan perkotaan.

Thomas Karsten, sosok dibalik eloknya penataan ruang Kota Malang di era Kolonial Belanda mengantisipasi persoalan genangan dengan menyiapkan saluran-saluran air yang terintegrasi dengan beberapa boesem. Beberapa boesem itu berlokasi di Jalan Bogor, belakang Museum Brawijaya, Jalan Kawi Atas dan Jalan Kawi Bawah dengan fungsi sebagai ‘benteng’ penahan air sekaligus fungsi penyimpanan. Tuntutan pembangunan perkotaan telah mengikis luasan resapan air dan bahkan menutup saluran air. Limpasan air permukaan yang tinggi pun tak terelakkan dan ancaman menghantaui di 30 titik rawan genangan Kota Malang.

 

Hujan adalah “Berkah”

Air merupakan anugerah Allah Ta’ala untuk dinikmati oleh seluruh makhluk hidup, termasuk hewan dan tanaman. Melalui firman-Nya: “Dan Kami turunkan air dari langit dengan jangka tertentu, maka Kami endapkan di dalam bumi, dan Kami pun berkuasa menghabiskannya”, hikmahnya: bahwa air merupakan sumber daya yang terbatas walaupun tersedia dalam jumlah banyak di bumi. Manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab untuk senantiasa menjaga lingkungan dengan sumber daya air menjadi bagian didalamnya. Lingkungan harus dipandang sebagai salah satu komponen ekosistem yang memiliki nilai untuk dihargai, dijaga dan dilestarikan. Air hujan yang merupakan ‘berkah’, kini seringkali dipandang sebagian orang sebagai pemicu bencana genangan/banjir. Padahal pemicunya karena ulah manusia yang merusak lingkungan. Etika lingkungan antroposentris yang memandang manusia adalah pusat dari alam semesta sudah selayaknya berpindah ke paham ekosentris yang menjunjung tinggi tanggung jawab akan pelestarian lingkungan.

Sebagai bentuk tanggung jawab dan rasa syukur atas nikmat hujan, sudah selayaknya air hujan tidak dibiarkan mengalir begitu saja. Air hujan dengan intensitas tinggi ibarat dua sisi mata uang. Jika optimal didayagunakan akan meminimalkan risiko genangan, mendukung ketersediaan air tanah, mencegah land subsidence dan menghalau intrusi air laut. Namun jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi ancaman bencana perkotaan.

 

Permasalahan Sumber Daya Air

Permasalahan sumber daya air yang saat ini dirasakan berkaitan dengan siklus hidrologi yaitu kerusakan pergerakan, distribusi dan kualitas air. Siklus hidrologi sangatlah kompleks, ada interaksi antara ruang perairan, ruang udara dan ruang darat. Pemicu gangguan siklus hidrologi salah satunya yaitu konversi lahan berlebihan, misalnya kawasan hutan di bagian hulu yang berkembang kegiatan budidaya pertanian dan bergantinya resapan air menjadi bangunan beton menjulang di perkotaan.

Dalam jangka panjang kerusakan siklus hidrologi berakibat, pada: pertama, tidak menentunya musim sehingga sulit diprediksi. Musim penghujan di Indonesia yang biasanya terjadi antara bulan Oktober hingga bulan Maret, namun sekarang agak sulit diprediksi. Musim hujan dengan intensitas hujan tinggi seringkali menebar ancaman genangan/banjir dengan daya rusak air semakin besar di perkotaan.  Kedua, persediaan dan kualitas air tanah yang terus menurun dari tahun ke tahun. Musim hujan yang tidak menentu mengakibatkan persediaan air tanah juga menurun. Terlebih kawasan resapan yang terus berkurang semakin membatasi air hujan untuk meresap dan mengisi cadangan air tanah sehingga terjadi kekeringan. Tidak dipungkiri siklus hidrologi memiliki keterkaiitan dengan perencanaan ruang yang terintegrasi mengatur daratan dari hulu hingga hilir.

Perencanaan ruang sudah selayaknya memerhatikan aspek daya dukung lahan dan pemanfaatan ruang yang konsisten dengan peruntukannya. Terjadinya genangan air dan berkurangnya air tanah perkotaan dipicu oleh semakin terbatasnya lahan resapan air. Eksploitasi air tanah dengan intensitas pembangunan fisik yang melebihi daya dukung akan mengancam terjadinya amblesan tanah (land subsidence), hal ini telah terjadi di wilayah utara DKI Jakarta. Luas lahan terbangun berkorelasi dengan kurangnya kesempatan infiltrasi air ke dalam tanah. Genangan yang terjadi di Kota Malang lebih dikarenakan berkurangnya ruang peresapan air dan terganggunya saluran drainase. Pertumbuhan permukiman yang tidak tertib semakin memperparah luas kawasan rawan genangan. Jika tidak ada terobosan pengelolaan perkotaan khususnya bidang sumber daya air dikhawatirkan permasalahan genangan akan semakin merugikan dan merusak citra kota.

Pengelolaan drainase perkotaan harus sesuai dengan ketentuan teknis yaitu; pertama, kapasitas saluran harus mampu menampung debit air dari area sekitarnya (catchment area) dengan curah hujan dan arah aliran air yang dipengaruhi kondisi topografi kawasan; kedua, bahwa saluran air harus terkoneksi dalam satu kesatuan sistem drainase kota dan dipastikan air permukaan akan mengalir dengan baik (mengatur kemiringan saluran) menuju saluran utama; dan ketiga, saluran drainase dibangun dengan tetap mengoptimalkan fungsi peresapan air (ekodrainase). Saluran drainase juga harus bebas dari tumpukan sampah maupun sedimen yang menyebabkan berkurangnya daya tampung saluran.

 

Mewujudkan Kota Konservasi Air

Tidak ada terlambat mewujudkan keberlanjutan pengelolaan sumber daya air di Kota Malang. Program konservasi air bisa menjadi pilihan karena permasalahan air “3 T” yaitu too much (genangan/banjir), too little (kekurangan air) dan too dirty (air tercemar). Konservasi air merupakan usaha-usaha untuk memasukkan air sebanyak-banyaknya ke bumi atau tanah dalam rangka pengisian air tanah atau pengawetan air (menabung air). Teknologi yang bisa diadopsi untuk konservasi sumber daya air bisa natural recharge (isian air secara alamiah) maupun artificial recharge (isian air secara buatan). Setidaknya proses peresapan air sebagai bagian siklus hidrologi bisa dioptimalkan ditengah maraknya lahan terbangun yang mengorbankan ruang resapan air.

Teknologi untuk konservasi air yang bisa diadopsi juga sangat beragam, pengambil kebijakan bisa memilih atau mengkombinasikannya dengan mempertimbangkan potensi dan kendala yang ada di wilayahnya. Metode natural recharge bisa dilakukan dengan optimasi hutan lindung, hutan kota/ruang terbuka hijau publik maupun lahan resapan lainnya. Dalam istilah Belanda ‘hutan lindung’ atau ‘schermbos’ berarti hutan yang berfungsi sebagai ‘payung’ atau ‘pelindung’. Fungsi ‘penyangga’ sebenarnya berkaitan langsung dengan fungsi ‘lindung’, yaitu mengurangi debit puncak pada kejadian hujan. Sedangkan metode artificial recharge bisa dilakukan dengan membangun bendungan/ waduk /embung/ polder/ retardasi basin/ boesem/ situ/ danau/ urung-urung, sistem saluran drainase yang juga meresapkan air, sumur resapan atau sumur injeksi (recharge well/injection well) dan lainnya.

Karakteristik Kota Malang dengan kontur berlereng dengan 30 titik langganan genangan air hujan, konversi lahan tinggi dan terbatasnya RTH menjadikan sumur injeksi merupakan pilihan yang efisien. Sumur injeksi diprediksi mampu menyimpan air, mengurangi banjir/genangan, menambah cadangan air tanah (groundwater) dan mengurangi penurunan tanah (land subsidence). Sumur injeksi bisa diaplikasikan di berbagai tempat dengan syarat utama merupakan titik kumpul air (genangan) bisa di halaman rumah, taman, jalan kampung, bahu jalan dan lahan kosong lainnya. Sedangkan dimensinya bisa disesuaikan dengan lokasi dan permasalahan genangannya (misalnya untuk lokasi gang-gang kampung bisa dipilih diameter 1 meter dan kedalaman 4 meter). Pembangunan sumur injeksi relatif sangat mudah dengan biaya yang terjangkau, dengan konstruksi yang aman bagi masyarakat dimana lokasi sumur injeksi dibangun. Sertifikasi paten melengkapi ciptaan “sumur injeksi” yang telah diakui dan tercatat di Kementerian Hukum dan HAM RI per tanggal 21 Maret 2016. Kami berharap ciptaan sumur injeksi bisa bermanfaat bagi masyarakat, mendukung kebelanjutan lingkungan dan tidak ada kendala jika diaplikasikan.

Keberhasilan sumur injeksi dalam menyelesaikan permasalahan sumber daya air perkotaan telah dirasakan oleh masyarakat di RT 03-04 RW IV Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen pada tahun 2011 dan Kampung Glintung (RW 23 Kelurahan Purwantoro, Blimbing) tahun 2016. Kawasan padat penduduk tanpa menyisakan ruang terbuka menjadi langganan genangan/banjir, berhasil keluar dari permasalahan banjir saat musim hujan dan tercukupinya kebutuhan dari air tanahnya saat musim kemarau.

Mewujudkan Kota Malang sebagai “Kota Konservasi Air” bisa dilakukan dengan  kolaborasi antar stakeholder membangun sumur injeksi di lokasi-lokasi genangan. Dengan program 10 unit sumur injeksi per kelurahan per tahun maka dalam setahun terbangun 570 unit sumur injeksi. Jika kita mulai program ini tahun depan (2020), maka diakhir periode kepemimpinan Walikota/Wakil Walikota Sutiaji-Edi terbangun 2.280 unit sumur injeksi (tahun 2023). Jumlah yang sangat besar dan dirasa efektif mengurangi limpasan air permukiman dan mengoptimalkan menambah cadangan air tanah. Sehingga beban jaringan drainase sebagai pembawa air tidak semakin besar di bagian hilir.

Kota Malang juga harus memanfaatkan modal sosial melalui semangat kebersamaan dan gotong royong dalam aksi-kasi nyata peduli lingkungan. Salah satu aksi yang bisa digagas untuk mewujudkan kota konservasi air yaitu gerakan angkut sampah dan sedimen (GASS). Bersama-sama membersihkan saluran dari penyumbatan untuk antisipasi luapan air dari selokan karena tertutup sampah dan sedimen. Fungsi saluran harus dikembalikan optimal dan menambahkan sumur resapan pada saluran-saluran drainase sehingga selain pengaliran juga peresapan air untuk menambah cadangan air tanah. Peran tata ruang juga tidak kalah penting, melalui pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang memastikan peruntukan tata guna lahan mengakomodir ruang terbuka hijau (RTH) publik terpenuhi secara luasan dan tersebar merata di keenam bagian wilayah perkotaan (BWP). Interaksi tata ruang dan ruang air harus disikapi pemerintah dengan menerapkan fungsi pengawasan dan pengendalian terhadap tata ruang. Tidak ada kompromi dalam pemanfaatan ruang, jika melanggar tata ruang, mengganggu saluran air maka bangunan harus dibongkar dan dikembalikan ke fungsi asal. Pelaku pelanggaran ijin pemanfaatan ruang dan pemberi ijin harus diberikan sanksi yang tegas sesuai ketentuan perundang-undangan.

Jika program sumur injeksi, gerakan masyarakat sadar lingkungan dan penataan ruang kota berkelanjutan dilakukan dengan sinergi maka ancaman banjir/genangan di Kota Malang akan cepat teratasi dan ketersediaan air tanah berhasil dipulihkan, sehingga saya yakin kota ini siap menjadi kota konservasi air, InsyaAllah…Aamiin Yaa Robbal Alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*