Pinned

Konversi Lahan Sawah dan Hilangnya Pendapatan Sektor Pertanian di Kota Batu

Mengusung visi sebagai kota wisata dan agropolitan, Kota Batu kini menjelma sebagai magnet destinasi wisata unggulan di Timur Jawa. Dua sektor utama yang bisa berkolaborasi apik jika dikelola dan dikendalikan dengan baik, dan bukan hal mustahil bisa saling mengancam jika tidak ada harmoni dalam pembangunan. Peningkatan kegiatan wisata dan pendukungnya di seluruh bagian Kota Batu berimplikasi pada peningkatan kebutuhan lahan untuk menampung dinamika kota. Indikasinya terjadi tumpang tindih penyediaan lahan antara kegiatan pariwisata dan kegiatan pertanian yang menjadi kontributor utama pendapatan Kota Batu. Tercatat luas lahan sawah di Kota Batu sebesar 2.480 Ha (12,46%) dari luas keseluruhan yang mencerminkan kota bercorak agraris. Mendukung program ketahanan pangan, telah ditetapkan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) sebesar 1.252 Ha yang berada di desa Kecamatan Junrejo dan Kecamatan Batu. Konsekuensinya lahan LP2B tidak boleh dialihfungsikan dan merupakan lahan pertanian abadi. Dengan demikian, masih ada 1.228 Ha lahan pertanian yang fungsinya dapat diubah menjadi lahan non pertanian.

Laju konversi lahan pertanian menjadi lahan terbangun guna mendukung sektor pariwisata dan perumahan di Kota Batu terjadi di seluruh bagian kota tak terkecuali hingga wilayah pinggiran. Ya, telah terasa aroma urban sprawl. Perkembangan kegiatan perkotaan ke wilayah pinggiran dan terjadi proses perembetan penampakan fisik perkotaan ke arah luar. Dampak dari konversi lahan pertanian menjadi lahan terbangun merupakan salah satu isu menarik yang dikaitkan dengan penurunan produksi dari lahan pertanian tanaman pangan yang ada di Kota Batu. Penurunan produksi lahan pertanian tanaman pangan mengakibatkan adanya berkurangnya nilai ekonomi yang dihasilkan dari kegiatan pertanian. Nilai ekonomi dinilai dari nilai guna langsung dari nilai harga produk pertanian yang dihasilkan dan nilai guna tidak langsung yang didapat dari adanya produksi padi, ataupun nilai yang didapatkan dari penggunaan hasil produksi selain produk pertanian yang dapat dimanfaatkan.

Maraknya Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan

Perubahan penggunaan lahan pertanian di Kota Batu semakin hari semakin sulit dikendalikan. Peningkatan kegiatan pariwisata di seluruh bagian Kota Batu menyebabkan peningkatan kebutuhan lahan terbangun guna mendukung kegiatan tersebut. Hal itu menyebabkan tumpang tindih penyediaan lahan antara kegiatan pariwisata dan kegiatan pertanian yang menjadi sektor utama pendapatan Kota Batu. Penelitian dilakukan di Kota Batu melalui metode analisis citra dengan menggunakan Remote Sensing untuk mengetahui luas dari konversi lahan pertanian padi sawah di Kota Batu dalam kurun waktu 4 tahun. Melalui citra landsat 8 ETM+ tahun 2014-2017 dapat diketahui luas konversi dari lahan pertanian di semua wilayah Kota Batu. Berdasarkan hasil klasifikasi dapat diketahui bahwa selama kurun waktu 4 tahun, perubahan tutupan lahan Kota Batu umumnya cenderung berubah penggunaannya menjadi permukiman dan perkebunan. Hal ini terlihat dari bertambahnya luasan lahan terbangun sebesar 415,73 ha, kemudian lahan yang berubah menjadi perkebunan sebesar 118,71 ha. Kemudian lahan lainnya cenderung berkurang, seperti lahan persawahan yang berkurang sebesar 405,09 ha, kemudian semak belukar berkurang 24,06 ha, tanah ladang berkurang 17,64 ha, dan hutan berkurang sebesar 91,48 ha dalam kurun waktu 4 tahun. Dengan harga lahan pertanian yang sudah sangat tinggi, dikhawatirkan semakin mempercepat terjadinya konversi lahan pertanian di Kota Batu.

Kemampuan dan Kesesuaian Lahan Kota Batu 

Analisa kemampuan lahan di Kota Batu menjelaskan kelas dan subkelas khusus yang didapatkan dari kriteria kemampuan lahan berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 17 Tahun 2009 Tentang Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup dalam Penataan Ruang Wilayah.

Kemampuan lahan di Kota Batu terbagi menjadi lima kelas kemampuan lahan berdasarkan faktor pembatas masing masing kelas. Kelas VII mempunyai luasan kelas lahan yang paling besar di Kota Batu sebesar 8.811,42 ha dengan faktor pembatas kelerengan. Sedangkan luasan lahan yang paling sedikit adalah kelas VI dengan luasan 464,92 ha dari seluruh luas lahan di Kota Batu.

Luasan hutan sebesar 12.386,59 ha telah sesuai dengan kemampuan lahan yang ada. Sedangkan lahan perkebunan sebesar 36,26% tidak sesuai karena berada kelas kemampuan lahan V, VI, dan VII dengan kriteria tutupan lahan yang sangat terbatas dan tidak terlalu sesuai dengan kegiatan budidaya. Luasan lahan terbangun sebesar 16,43% tidak sesuai untuk peruntukan lahan terbangun ataupun permukiman. Luas lahan persawahan sebesar 12,67% berada pada kelas kemampuan VI dan VII yang seharusnya diarahkan menjadi kawasan lindung dan pemanfaatan terbatas. Sedangkan luas lahan Ladang/Tegalan yang tidak sesuai sebesar 26,83% yang berada pada kelas kemampuan VI, dan VII yang diarahkan menjadi kawasan lindung dan pemanfaatan terbatas. Berdasarkan dari hasil tutupan lahan eksisting dengan overlay antara tiap tutupan lahan dengan kemampuan lahannya, tutupan lahan di Kota Batu yang tidak sesuai sebesar 1.549,91 ha atau sebesar 7,79% dari keseluruhan luasan lahan. Sedangkan penggunaan lahan di Kota Batu yang sesuai sebesar 18.358,81 ha atau sebesar 92,21% dari keseluruhan luas lahan.

Lahan-lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya dapat diubah menjadi kawasan pemanfaatan yang sangat terbatas, maupun menjadi kawasan lindung karena berada pada kelas kemampuan lahan VI dan VII yang tidak sesuai dengan kebanyakan kegiatan budidaya sehingga harus dibiarkan alami sebagai kawasan pemanfaatan sangat terbatas ataupun menjadi hutan lindung. Dalam pengembangan lahan di Kota Batu dapat memanfaatkan pemanfaatan lahan yang sesuai dan dapat melakukan perubahan, tetapi harus sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan sesuai dengan arahan tata ruang yang ada.

Menghitung Nilai Ekonomi Lahan Pertanian

Nilai ekonomi lahan pertanian dihitung berdasarkan data luas lahan pertanian di Kota Batu pada tahun 2014-2017. Selanjutnya diketahui sebaran, luasan lahan pertanian, kesesuaian lahan pertanian tersebut terhadap daya dukung lahan yang ada, sehingga dapat diketahui apabila terdapat lahan pertanian yang tidak sesuai dengan peruntukan lahannya dan diarahkan menjadi lahan untuk kawasan lindung atau pengembangan kegiatan lainnya.

Mengkaji nilai ekonomi lahan pertanian dan membandingkan hasilnya dari tahun ke tahun dengan membaginya menjadi dua. Nilai ekonomi produksi lahan pertanian yang sesuai dengan daya dukungnya maupun yang tidak sesuai serta nilai ekonomi berdasarkan harga lahan pertanian. Hasil dari perhitungan nilai ekonomi konversi lahan pertanian adalah mengetahui nilai rupiah yang diakibatkan oleh penurunan produksi pertanian, dan degradasi lingkungan yang merupakan dampak dari konversi lahan pertanian.

Nilai Ekonomi Konversi Lahan Pertanian

Terjadi penurunan luas lahan persawahan di Kota Batu dari tahun 2014-2017. Berdasarkan hasil identifikasi, luas lahan pertanian yang sesuai semakin menurun setiap tahunnya begitu pula dengan luas lahan yang tidak sesuai. Untuk lahan pertanian yang sesuai terjadi penurunan sebesar 228,32 ha selama tahun 2014-2017. Untuk lahan persawahan yang tidak sesuai terjadi penurunan 176,8 ha dalam kurun waktu 2014-2017. Sedangkan penurunan luas lahan persawahan secara keseluruhan sebesar 405,09 ha.

Nilai Ekonomi Lahan Berdasarkan Produksi Pertanian

Perubahan guna lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian memberikan berbagai dampak, seperti penurunan nilai ekonomi lingkungan dalam suatu lahan tertentu. Nilai ekonomi lingkungan ini adalah nilai yang tersembunyi apabila manusia dalam kegiatannya dapat memanfaatkan lahan dengan baik dan mempertimbangkan aspek ekonomi dan lingkungannya untuk jangka panjang. Oleh karena itu, kuantifikasi dari manfaat dan kerugian atau biaya dari suatu proses pemanfaatan tersebut harus dilakukan untuk membantu proses pengambilan keputusan terkait dengan memperhatikan aspek aspek keadilan.

Dampak pertama yang ditimbulkan dari adanya konversi lahan pertanian yang produktif menjadi lahan non pertanian adalah ketidakseimbangan lingkungan, misalnya dalam musim musim tertentu suhu udara di Kota Batu meningkat tidak seperti biasanya dan suhu keseluruhan meningkat dalam 10 tahun terakhir. Sedangkan apabila dalam musim hujan, kehilangan lahan pertanian dapat membuat serapan air tanah menjadi berkurang, limpasan air semakin banyak dan meningkatkan kemungkinan terjadinya erosi, utamanya di daerah lereng pegununungan seperti Kota Batu. Apabila lahan pertanian yang sudah menjadi lahan terbangun umumnya bersifat permanen karena proses konversi lahan pertanian menjadi non pertanian sifatnya irreversible atau tidak dapat berubah lagi.

Nilai produksi tanaman (NPT) adalah nilai dari hasil produktivitas suatu lahan pertanian. Jadi NPT dapat diartikan sebagai pendapat yang diperoleh petani dalam satu kali produksi setiap tahunnya. Dalam penelitian ini, peneliti memproses lebih lanjut dari data dinas pertanian dalam penentuan nilai produksi tanaman. Untuk penentuan produk rata-rata tanaman (PRT) pada satu unit lahan, peneliti mendapatkan data dari dinas pertanian Kota Batu (2016), yang menyatakan bahwa 1 Ha lahan sawah dapat menghasilkan 6,6 ton GKP (Gabah Kering Panen) dan untuk HP (Harga per Jenis Produksi) diambil dari data PIP Kota Batu Rekapitulasi agustus 2016 yang menyebutkan harga gabah kering panen di Kota Batu sebesar Rp 4.200 per kilogram.

Sedangkan Biaya Produksi Tanaman (BPT) adalah biaya yang dikeluarkan dalam satu kali produksi tanaman. Dalam penelitian ini, peneliti memperoleh input rata-rata biaya produksi tanaman dari data dinas pertanian dan mengambil sumber literatur dari Peraturan Menteri Pertanian Nomor 69 Tahun 2016 tentang Alokasi dan HET Pupuk Bersubsidi TA 2017. Adapun biaya produksi tanaman dalam satu kali proses produksi inputnya berupa biaya untuk pembelian Pupuk (ZA, Urea, NPK, SP, dan Phonska) dan biaya untuk pembelian bibit ( bibit hibrida).

Perhitungan analisis produksi pertanian yang hilang diketahui kerugian akibat adanya perubahan lahan tidak terbangun yang berubah fungsinya menjadi lahan terbangun. Konversi lahan pertanian produktif menjadi lahan non pertanian di Kota Batu selama waktu 4 tahun (2014-2017) diperkirakan sebesar 1542,46 ha. Dampak yang ditimbulkan akibat konversi lahan pertanian produktif adalah hilangnya penerimaan dari usaha tani padi di Kota Batu. Dalam waktu kurun 4 tahun (2014-2017) telah terjadi perubahan penggunaan lahan pertanian produktif menjadi lahan non pertanian dan berdampak terhadap hilangnya penerimaan dari usaha tani padi sebesar Rp 5.961.565.060.-

Nilai Ekonomi  Berdasarkan Harga Lahan Pertanian

Identifikasi harga lahan pertanian di Kota Batu didapatkan dari data seluruh kelompok tani yang mempunyai lahan pertanian. Berdasarkan hasil klasifikasi citra landsat 8 tahun 2017, dari 23 kelurahan di Kota Batu terdapat 17 kelurahan yang mempunyai lahan pertanian sawah produktif. Berdasarkan hasil survei, diketahui harga lahan pertanian sangat dipengaruhi dengan kedekatannya dengan jalan kolektor/jalan utama yang ada di Kota Batu, maupun jalan lokal. Diketahui harga lahan pertanian tertinggi terdapat di sekitar jalan kolektor dengan harga lahan terendah sebesar Rp 3.500.000/m2 dan harga lahan tertinggi sebesar Rp 12.600.000/m2. Juga diikuti dengan sebaran harga lahan pertanian di jalan lokal yang tertinggi sebesar Rp 4.400.000/m2 dan yang terendah sebesar Rp 120.000/m2. Harga lahan pertanian terendah di Kota Batu terdapat di sekitaran jalan lokal yang ada di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji.

Perhitungan nilai ekonomi berdasarkan harga lahan, dapat diketahui lahan pertanian mana saja yang mempunyai potensi alih fungsi berdasarkan harga lahannya. Semakin mendekati wilayah perkotaan di Kota Batu dan jalan utama, maka harga lahan pertanian semakin tinggi dan cenderung sangat berpotensi untuk diubah fungsinya menjadi lahan non-pertanian. Diketahui sebaran harga lahan sawah yang terbagi menjadi 5 klasifikasi harga lahan. Harga lahan yang berkisar di antara Rp 243.750-969.730/m2 memiliki luas lahan sekitar 13,18 ha dan berada jauh dari permukiman, maupun lokasi akses jalan, dan memiliki aksesibilitas yang sangat terbatas, sehingga harganya cenderung murah. Sedangkan untuk harga lahan yang berkisar di antara Rp. 6.124.191-9.500.000/m2 memiliki luas lahan sebesar 26,45 ha dan letaknya berada dekat dengan pusat Kota Batu. Harga lahan pertanian di Kota Batu termasuk harga yang sangat tinggi mengingat dampak dari kegiatan dan aktivitas Kota Batu sebagai kota agropolitan dan kota wisata. Kedepannya diperlukan peran aktif dari semua kalangan untuk dapat menjaga dan mempertahankan lahan pertanian pangan menjadi lahan non pertanian meskipun harga lahan terus meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*