Pinned

Interaksi Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan Wilayah Pesisir

 

Pembangunan dan Degradasi Lingkungan DAS

Berdasarkan PP 38 Tahun 2011 tentang sungai, sungai adalah alur atau wadah air yang buatan atau yang sudah ada secara alami berupa jaringan pengaliran air beserta air di dalamnya yang dimulai dari hulu sampai ke muara dengan dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan. Sungai merupakan wadah atau tempat berkumpulnya air dari suatu kawasan, air permukaan atau air limpasan mengalir secara gravitasi dari tempat yang lebih tinggi menuju ketempat yang lebih rendah (Asdak, C, 1995). Bagian sungai terdiri dari palung sungai dan sempadan sungai. Palung sungai memiliki fungsi sebagai ruang atau wadah air yang mengalir dan sebagai tempat berlangsungnya kehidupan ekosistem sungai. Sedangkan sempadan sungai berfungsi sebagai ruang penyangga antara ekosistem sungai dan daratan disekitarnya, supaya fungsi dari sungai dan kegiatan manusia yang ada di sekitarnya tidak saling terganggu. Sungai mengalir secara alami, yang berawal dari hulu sungai yang biasanya ada di dataran tinggi atau pegunungan yang menuju ke arah muara lalu akan menuju ke laut. Bagian hulu merupakan awal munculnya aliran air atau mata air. Sungai termasuk dalam komponen dari lingkungan hidup yang sangat bermanfaat dan penting untuk kelangsungan hidup manusia serta untuk menunjang pembangunan perekonomian. Masyarakat di Indonesia banyak bergantung hidup dengan memanfaatkan sungai seperti untuk keperluan sehari hari. Selain itu sungai juga berfungsi untuk mengalirkan air atau lalu lintas dalam aliran sungai yang terdapat juga sendimen dan juga polutan. Menurut Juwono dan Subagiyo (2018), pengelolaan air di daratan sebaiknya dilaksanakan dengan cara menahan air sedemikian lamanya di darat agar air dapat terserap ke dalam tanah sehingga cadangan air tanah akan tetap lestari.

Fungsi sungai selain sebagai upaya pemenuhan kebutuhan adalah sebagai transportasi, yang digunakan sebagai jalur untuk transportasi, memudahkan mobilitas dari satu tempat ke tempat yang lain baik barang dan manusia. Pendistribusian barang untuk dijual yang terdiri dari hasil bumi, hasil perikanan, makanan atau barang-barang kebutuhan lainnya dari satu tempat satu ke tepat lainnya yang berkaitan dengan aktivitas perekonomian penduduk yang tinggal di daerah. Fungsi sungai selain sebagai transportasi juga sebagai sarana ekonomi dan interaksi serta sosialisasi. Sehingga fungsi sungai untuk manusia dapat membentuk serta mengembangkan kehidupan sosial atau interaksi sosial di dalam lingkungan ekologi.

Banyaknya fungsi sungai dan seiring waktu dan semakin meningkatnya pembangunan ekonomi terjadi perubahan fungsi dari guna lahan. Bertambahnya jumlah penduduk mengakibatkan tingginya tekanan yang diberikan kawasan sungai terhadap lingkungan. Rusaknya kawasan di hulu sungai akan menyebabkan kerusakan juga di hilir, kerusakan di hulu disebabkan oleh kebiasaan buruk masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan sehingga menyebabkan aliran air yang tidak lancar dan terjadi banjir. Penebangan secara liar yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga dapat menimbulkan bencana seperti longsor, sedimentasi banjir yang awalnya terjadi di hulu sehingga akan menyebabkan dampak juga terhadap hilir. Karena sebuah ekosistem, banjir yang terjadi pada hilir daerah aliran sungai tidak lepas dari kondisi yang terjadi di bagian hulu.

Hasil dari pembangunan yang berkembang pesat menyebabkan perubahan seperti alih fungsi lahan terus menerus dan cepat sehingga menyebabkan permasalahan pada daerah pengaliran sungai. Bertambahnya jumlah penduduk dan peningkatan kegiatan ekonomi juga meningkatkan buangan limbah, sedangkan selama ini sungai dijadikan tempat pembuangan limbah sehingga terjadi penurunan kualitas air. Dampak yang berasal dari hulu juga akan dirasakan bagian hilir sedangkan saat ini hilir juga memiliki permasalahan seperti sempadan sungai digunakan juga untuk kawasan permukiman, industri, komersial dan fasilitas-fasilitas sosial lainnya.

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahwa kerusakan DAS di Indonesia sudah masuk kedalam tahap yang sangat mengkhawatirkan, dengan jumlah 450 DAS yang ada di Indonesia 118 termasuk kedalam kondisi kritis. Ini merupakan salah satu permasalahan yang sangat serius untuk ditangani. Permasalahan dari adanya kerusakan DAS akan berdampak terhadap besar kecilnya debit air.

Fungsi sungai tak lepas dari peran danau, situ, waduk dan bendungan. Bendungan menampung sementara air sungai sehingga banjir di bagian tengah/perkotaan maupun hilir bisa diminimalkan, mengontrol terhadap kualitas air, terjadi sedimen atau tidak dan seterusnya. Peran atau fungsi danau, situ, waduk dan bendungan (Supangat & Paimin, 2007; Kutarga dkk, 2008; Endah & Nadjib, 2017):

  • Mengembalikan kualitas air secara alami ”natural self-purification capacity”.
  • Mengendalikan air sungai baik secara jumlah dan kualitas serta berkelanjutan.
  • Berfungsi untuk menyediakan air irigasi.
  • Mengendalikan banjir.
  • Sebagai pembangkit listrik tenaga air.
  • Watershed Management.
  • Water Quantity and Quality Management.
  • River/lake/reservoir environment management.
  • Salah satu penyedia sumber air bersih.
  • Mendukung kegiatan perikanan dan alternatif destinasi wisata.

Interaksi daratan dan lautan merupakan gambaran apa saja yang terjadi di wilayah daratan seperti hulu dengan hutan dan pertanian maupun tengah dengan perkotaannya dampaknya akan dirasakan oleh pesisir/laut dengan potensi sektor perikanan, sektor pariwisata dan lain-lain. Aliran sungai merupakan penghubung antara daratan dan lautan. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan atau interaksi antara daratan dan lautan. Segala sesuatu yang terjadi di daratan akan menimbulkan dampak terhadap lautan.

DAS adalah bentang alam yang menghubungkan daerah hulu dengan daerah hilir, sehingga dampak segala aktivitas di daerah hulu akan dirasakan oleh daerah hilir. Lahan, air dan keanekaragaman biotik merupakan kesatuan ekosistem dan saling berkaitan. Dalam ekosistem, di daerah aliran sungai telah terjadi berbagai proses interaksi setiap komponen. Komponen tersebut adalah air, tanah, vegetasi dan manusia. Sungai merupakan komponen utama DAS, dengan sungai merupakan hal yang menguntungkan sekaligus merugikan. Hal tersebut tergantung pada manusia yang memanfaatkan sungai tersebut. Sungai dapat menjadi hal yang menguntungkan dalam berbagai hal antara lain untuk sumber kehidupan, kebutuhan air bersih, pertanian, energi, dan lain-lain. Tetapi, sungai juga mampu menyebabkan banjir, menyebarkan limbah, menyebabkan sedimentasi yang dapat mendangkalkan sungai.

Peran utama kawasan hulu adalah sebagai penyedia air untuk daerah hilir, yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan serta menjaga keseimbangan ekosistem. Pemanfaatan lahan di daerah hulu sangat terbatas. Bagian hulu sebagai penyedia air untuk daerah hulu dan hilir, sehingga kesalahan pengelolaan lahan akan menimbulkan berbagai dampak negatif di daerah hilir. Beberapa kasus semakin menguatkan bukti bahwa kerusakan yang ditimbulkan di hulu menyebabkan masalah di hilir. Berikut beberapa interaksi daratan dan lautan:

  • Berkurangnya jumlah populasi ikan, berkurangnya keanekaragaman ikan, dan ikan mengandung zat berbahaya.

Hal tersebut terjadi karena di daerah hulu terdapat aktivitas penambangan pasir dan batu, kemudian aliran sungai melewati daerah rumah sakit umum di daerah perkotaan, pada daerah hilir terdapat limbah industri penyamakan kulit, pabrik aki, dan industri rumah tangga (Yuanda dkk, 2012).

  • Penggundulan hutan

Hal ini akan menyebabkan perubahan kualitas air pada saat musim hujan tiba. Pada saat musim kemarau, kualitas air sungai akan menurun karena terdampak oleh limbah yang berasal dari industri dan limbah rumah tangga. Selain itu, di musim kemarau debit air sungai cenderung kecil serta cadangan air bawah tanah menipis sehingga menimbulkan masalah ketersediaan air dan kekeringan di lahan-lahan pertanian (Satriawan, 2010).

  • Pembukaan lahan hutan untuk lahan pertanian

Kawasan hutan yang dialihfungsikan menjadi menjadi lahan pertanian umumnya memiliki kemiringan lahan di atas 25%. Pada lahan dengan kemiringan tersebut, apabila tidak memperhatikan pembuatan teras, pola tanam, dan lain-lain maka akan berakibat masuknya pestisida dan pupuk ke dalam air sungai. Sehingga pada dasarnya aktivitas ini akan meningkatkan kandungan zat padat tersuspensi di dalam air sungai (Satriawan, 2010).

  • Pembukaan lahan untuk lahan perkebunan

Kemampuan tanaman di perkebunan biasanya tidak sebesar kemampuan tanaman hutan dalam menahan air hujan. Tanaman hutan yang telah berumur puluhan tahun memiliki akar yang menancap kuat ke dalam tanah. Selain itu, sedimen termasuk pencemaran yang cukup besar ketika terjadi penebangan pohon-pohonan, pembuatan parit-parit, perambahan hutan, dan lain-lain. Zat hara tanaman yang berasal dari pelepasan pupuk nitrat atau limbah cair, apabila kandungannya dalam air berlebihan maka akan mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (Satriawan, 2010).

  • Pembukaan hutan untuk daerah terbangun

Daerah terbangun seperti kawasan permukiman, industri, ataupun perdagangan dan jasa memiliki kemampuan infiltrasi air ke dalam tanah yang sangat rendah dibandingkan dengan kondisi awalnya (hutan sebelum dialihfungsikan). Hal tersebut meningkatkan risiko terjadinya banjir di daerah hilir. Alih fungsi lahan hutan menjadi daerah terbangun memiliki risiko terjadinya longsor yang lebih besar daripada penggundulan hutan karena infiltrasi lebih kecil dan beban massa lebih besar (Satriawan, 2010).

  • Penggunaan Lahan Pertanian

Pengaruh-pengaruh yang dapat ditimbulkan termasuk perubahan dalam sedimen dan konsentrasi hara, garam-garam, logam dan agrokimia, oleh patogen dan perubahan regime temperatur. Sedimen dapat mengakibatkan polusi dalam dua bentuk yaitu secara fisik dan secara kimia. Polusi secara fisik termasuk sifat turbuditas sedimen (pembatasan penetrasi matahari) dan sedimentasi (pengurangan kapasitas waduk di hilir) (Satriawan, 2010).

 

Peran DAS Dalam Keterkaitan Ekologis di Bagian Hulu Terhadap Pesisir

Pengelolaan wilayah pesisir yang optimal dan berkelanjutan dapat dilaksanakan dengan menggunakan prinsip keterpaduan. Prinsip keterpaduan dilakukan dengan mempertimbangkan keterpaduan antara pengelolaan di lahan atas (hulu dan bagian tengah) dengan kondisi ekosistem di daerah muara dan pesisir. Daerah hulu, bagian tengah, dan daerah hilir tergabung dalam satu kesatuan daerah aliran sungai. DAS merupakan suatu cekungan geohidrologi yang dibatasi oleh daerah tangkap air dan dialiri oleh suatu badan sungai. Pada suatu DAS terdapat interaksi antara manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan alam. DAS meliputi semua komponen lahan, air, dan sumber daya biotik yang merupakan suatu unit ekologi dan mempunyai keterkaitan antar komponen.

Sungai yang mengalir dari hulu ke hilir merupakan penghubung dalam DAS. Berbagai manfaat sungai umumnya dapat dinikmati di daerah hulu maupun di daerah tengah dan hilir apabila dikelola dengan baik. Interaksi manusia terhadap komponen lahan dan air sering menimbulkan pencemaran. Pencemaran yang dilakukan manusia pada daerah hulu atau bagian tengah, yang berikutnya dialirkan melalui saluran drainase, akan mencemari daerah hilir pada suatu DAS. Pencemaran tersebut akhirnya juga dirasakan oleh masyarakat serta berbagai komponen alam lainnya di daerah hilir.

 

Dampak Kegiatan Manusia di Bagian Hulu Terhadap Pesisir

Kegiatan manusia di daerah hulu atau bagian tengah berkontribusi terhadap peningkatan berbagai pencemaran di bagian hilir dan di kawasan pesisir. Berbagai kegiatan yang merugikan alam dapat terangkut oleh aliran sungai, seperti kelebihan zat hara, sedimen, serta terbawanya zat beracun dan membahayakan makhluk hidup.

Kelebihan zat hara pada sungai dapat berdampak berupa meningkatnya beberapa jenis tumbuhan air dan mikroorganisme. Peningkatan jumlah tumbuhan dan mikroorganisme akan berakibat konsumsi oksigen dalam air meningkat. Kondisi kekurangan oksigen pada perairan memicu proses anaerob yang menghasilkan sulfat dan metana (beracun). Hal ini akan menyebabkan kematian bagi ikan-ikan di perairan tersebut.

Sedimentasi yang teralirkan oleh sungai dapat menutup tubuh biota laut di dasar laut, mengisi sistem pernafasannya, sehingga mengganggu kelangsungan hidup biota laut. Kondisi air akan semakin keruh dan ini akan mengganggu biota laut yang membutuhkan dan sensitif terhadap cahaya matahari.

Zat beracun yang mencemari perairan dapat berasal dari limbah rumah tangga ataupun limbah pabrik. zat beracun ini dapat menimbulkan kematian bagi organisme di perairan. Selain itu, apabila terdapat makhluk hidup yang telah terkena zat beracun dikonsumsi oleh manusia juga membahayakan terhadap kesehatan.

 

Kawasan Estuaria

Estuaria adalah perairan semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sebagai tempat terjadinya percampuran air laut yang memiliki salinitas tinggi dengan air tawar (Burhanuddin, 2011). Pritchard (1967) dan Dyer (1972) dalam Burhanuddin (2011) menjelaskan bahwa kawasan ini merupakan tempat bertemunya arus air sungai yang mengalir ke laut dengan arus pasang surut air laut yang keluar-masuk ke sungai sehingga terjadi fluktuasi perubahan salinitas yang berlangsung secara tetap yang berhubungan dengan gerakan air pasang. Tercampurnya air sungai dan air laut menyebabkan terbentuknya sifat fisika lingkungan khusus yang berbeda dari sifat air tawar di sungai dan air laut.

Kawasan estuaria membentuk suatu keseimbangan yang dinamis karena menghubungkan ekosistem air di darat dengan laut. Sejumlah ikan dan spesies udang secara khusus bertempat tinggal di kawasan estuaria, sehingga kawasan ini menjadi sangat penting untuk kelangsungan hidupnya seperti berlindung, mencari makan (feeding ground), bereproduksi, dan sebagai tempat tumbuh besar atau nursery ground (Kinne (1964), Dando (1984), dan Bengen (2002) dalam Burhanuddin (2011)).

Pritchard (1967) dalam Burhanuddin (2011) menyebutkan bahwa estuaria dikelompokkan menjadi 3 tipe, antara lain: 1) estuaria dataran pesisir, tipe ini merupakan tipe yang paling sering dijumpai, dan terbentuk karena kenaikan permukaan air laut yang menggenangi sungai di daerah pantai yang landai, 2) laguna atau teluk semi tertutup, tipe ini terbentuk oleh tumpukan pasir yang terletak sejajar dengan garis pantai, sehingga menghalangi interaksi langsung dan terbuka dengan perairan laut, 3) Fjords, tipe ini terbentuk akibat dari aktivitas teknonik seperti gempa bumi atau letusan gunung berapi. Aktivitas tersebut mengakibatkan permukaan tanah menjadi turun, dan tergenang air laut ketika terjadi pasang.

Suhu pada kawasan estuaria pada umumnya cenderung mengalami fluktuasi yang lebih besar dibandingkan dengan yang terjadi di laut. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh proses pasang surut air laut. Pada dasarnya perubahan suhu berpengaruh pada kemampuan makhluk hidup untuk tinggal didalamnya. Oleh karena itu, jumlah spesies yang tinggal di kawasan estuaria lebih sedikit daripada spesies yang tinggal di air tawar maupun air laut karena memerlukan ciri fisiologis yang cenderung khusus dan berbeda. Organisme yang sering ditemukan di kawasan estuaria adalah cacing, siput, dan aneka kerang. Selanjutnya organisme ini dimakan oleh udang dan ikan, yang berikutnya akan menjadi makanan bagi hewan lain seperti burung.

Salinitas air di kawasan estuaria cenderung beragam. Kondisi salinitas air tertinggi terdapat di lokasi yang dekat dengan air laut, sedangkan salinitas terendah berada di dekat aliran air tawar yang masuk ke kawasan estuaria. Pada kawasan ini juga terdapat kondisi yang disebut dengan “estuaria positif” atau “estuaria biji garam/salt wedge estuary”, dimana air tawar cenderung berada di atas air laut (terapung) karena kandungan garam pada air laut. Perbedaan salinitas ini dipengaruhi oleh terjadinya pasang surut, banyaknya aliran air tawar dan arus-arus lain, serta topografi daerahnya.

McLusky (1981) dalam Burhanuddin (2011) mengelompokkan organisme di kawasan estuaria berdasarkan daya toleransinya terhadap salinitas, antara lain: Oligostenohaline, merupakan kelompok organisme air tawar yang tidak tahan pada salinitas > 0,1 ‰. Meski demikian, terdapat beberapa organisme ini yang dapat hidup pada salinitas > 5 ‰. Organisme estuaria, adalah organisme laut yang hidup di kawasan estuaria. Organisme ini umumnya juga dapat hidup di laut, tetapi cenderung sedikit karena faktor kompetisi dengan organisme laut lainnya. Euryhaline, merupakan organisme yang mampu hidup pada kisaran salinitas yang luas, dan dapat ditemukan dari pinggir laut hingga di sekitar pusat kawasan estuaria. Biasanya organisme ini tidak tahan pada salinitas sekitar 18 ‰, tetapi beberapa spesies mampu tahan hingga salinitas < 5 ‰. Polystenohaline, organisme ini hidup di mulut estuaria dan tahan salinitas hingga 25 ‰. Migratory species (organisme peruaya), biasanya berupa ikan dan kepiting, dan tinggal di kawasan estuaria pada sebagian periode perkembangan hidupnya.

Berbagai organisme yang hidup seperti ikan, kepiting, kerang, dan berbagai jenis cacing saling terkait dalam suatu rantai makanan yang kompleks dalam ekosistem di kawasan estuaria. Kawasan estuaria juga disebut juga sebagai kawasan yang merupakan tempat bagi organisme untuk proses pembiakan, pembesaran, dan tempat mencari makan (Dando, 1984 dan Bengen, 2001 dalam Burhanuddin, 2011).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*