Pinned

Catatan Perjalanan Menyalurkan Bantuan Donasi Pembaca Radar Malang untuk Korban Gempa di Kab Sigi

Perjalanan saya bersama tim ke Kota Palu pada tanggal 15 Januari lalu terasa sangat berbeda dibandingkan 2 tahun yang lalu berkesempatan tugas ke Kota Kaledo ini. Bencana gempa, tsunami dan likuifaksi 3 bulan yang lalu di Kota Palu, Kab Sigi dan Kabupaten Donggala menjadikan pikiran saya berkecamuk, banyaknya jatuh korban, luasnya wilayah terdampak, sudah pulihkah kehidupan kota dan tentunya simpati kami kepada masyarakat yang menjadi korban. Terlebih misi kami kembali ke Kota Palu, Kab Sigi dan Donggala adalah kemanusiaan, yakni melakukan koordinasi, survei lokasi dalam upaya menyampaikan donasi dari Pembaca Radar Malang untuk Korban Gempa di Kab Sigi Sulawesi Tengah melalui bantuan membangunkan hunian rumah maupun infrastruktur penunjang kawasan permukiman. Ini merupakan kolaborasi antara Radar Malang, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya dan VEDC Malang.

Kami berangkat dari Malang terdiri dari 7 orang, yaitu Abdul Muntholib (redaktur senior Radar Malang), Wibisono Iman Santoso, ST (anggota apersi jatim), Aris Subagiyo, ST., MT (Ahli Pengembangan Wilayah & Kebijakan Publik, Fakultas Teknik UB), Dr.Eng. Riyanto Haribowo, ST., MT (Ahli Jaringan Perpipaan, Penyediaan Air Bersih, Kualitas Air, Fakultas Teknik UB), Bambang Winarta, ST, MT, PhD (Ahli Coastal, Drainase, Irigasi, Fakultas Teknik UB), serta dari PPPPTK BOE/VEDC Malang yaitu Drs. Hery Tarno, Dipl. HBT, MT (Ahli Bangunan Tinggi, Plumbing, Heating dan MK) dan Drs. Feriyanto, MT (Ahli Struktur dan Geoteknik).

Perjalanan kami dari Malang menuju Palu berjalan lancar dan tiba sesuai jadwal. Bayangan bahwa gempa 7.4 SR yang begitu dahsyat terjadi masih begitu terasa, terlihat dari retakan-retakan dan proses perbaikan bangunan Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu. Alhamdulillah, proses perbaikan bandara tinggal sedikit menyisakan penyelesaian pada plafon bangunan yang runtuh akibat gempa.

Kawan-kawan dari Radar Sulteng menjemput kami di bandara, saat itu waktu menjelang masuk sholat Maghrib. “Waktu” yang tentunya masyarakat PASIGALA akan terus mengingatnya, ya bencana yang meluluhlantakkan kota, tempat tinggal dan infrastruktur itu terjadi ketika hari mulai senja dan masuk waktu sholat Maghrib. Sepanjang perjalanan dari bandara menuju hotel tempat kami menginap terlihat Palu perlahan Bangkit. Kegiatan ekonomi mulai menggeliat, aktivitas masyarakat mulai berangsur normal meskipun tampak tenda-tenda tempat pengungsian dibeberapa spot kawasan yang terindikasi aman dari dampak bencana. Kondisi secara umum telah berangsur-angsur membaik. Membawa donasi dari pembaca Radar Malang, tim berharap mampu membantu meringankan beban masyarakat terdampak bencana gempa, tsunami dan likuifaksi. Donasi dari pembaca Radar Malang rencananya disampaikan di Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah, mengingat masyarakat terdampak gempa bumi 4 bulan yang lalu masih membutuhkan bantuan untuk bangunan hunian tetap.

Dana rencana pembangunan hunian tetap masyarakat korban terdampak bencana gempa-likuifaksi di Kab Sigi berasal dari donasi pembaca Radar Malang sedangkan dana perencanaan kawasan permukiman korban terdampak gempa-likuifaksi beserta fasilitas jaringan bersih, sanitasi, drainase dari FT Universitas Brawijaya. Perencanaan kawasan permukimannya dilakukan terlebih dahulu sehingga pembangunan fisik hunian tetap bisa dilakukan di kawasan terencana (ada site plan) yang dilengkapi dengan infrastruktur air bersih, jalan, drainase, kelistrikan dan telekomunikasi. Program ini nanti bisa dilanjutkan oleh Pemerintah Kabupaten Sigi melalui penganggarannya maupun donasi dari berbagai pihak yang membantu korban terdampak bencana. Harapannya terbangun kawasan hunian tetap yang layak dan aman bagi masyarakat korban gempa Kab Sigi yang bisa diterima oleh masyarakat.

Koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sigi

Kabupaten Sigi menjadi daerah otonomi baru pada tahun 2008, pemekaran dari Kabupaten Donggala. Sebagai daerah otonomi baru tentunya memiliki spirit kuat membangun daerah dengan agenda utama kesejahteraan rakyat. Potensi sumber daya alam, khususnya sektor pertanian dengan sub sektornya perkebunan, perikanan dan kehutanan dengan kontribusi sektor mencapai 45,62% merupakan sektor yang prioritas dikembangkan. Dibalik potensi sumber daya alam yang melimpah, Kabupaten Sigi juga rawan terhadap ancaman bencana alam. Ancaman rawan longsor di Dolo Selatan, puting beliung di Palolo, 7 kecamatan terdampak gempa besar tahun 2018 dengan dampak susulan likuifaksi di Kecamatan Tanambulava dan Kecamatan Sigi Biromaru. Ribuan korban terdampak bencana gempa dan likuifaksi masih menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun oleh pemerintah dan bantuan dari BUMN maupun NGO. Dengan masa huni huntara kurang lebih 2 tahun dan penyiapan hunian tetap (huntap) kondisi saat ini masih sangat terbatas dan telah menimbulkan keresahan bagi masyarakat.

Bupati Kabupaten Sigi menerima kami disela-sela agendanya yang padat dengan menyampaikan ucapan terimakasih kepada Radar Malang, tim Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, VEDC Malang dan memberikan arahan-arahan terkait dengan program pembangunan pasca bencana. Lebih lanjut Bupati merekomendasikan tim untuk berkoordinasi dengan Bappeda dan Dinas PU Kabupaten Sigi. Hasilnya, PU merekomendasikan untuk membangun unit rumah sementara di Desa Sibalaya Selatan, Kec. Tanambulava, Kab Sigi. Untuk pembangunan hunian tetap saat ini masih belum bisa dilakukan dan harus menunggu rencana induk yang mengaturnya. Hasil survei lapangan menunjukkan terdapat 120 KK yang menempati Huntara dengan luas rumah 7 meter x 5 meter dengan tipe bangunan deret yang dibangun oleh pemerintah dan BUMN di lahan milik desa. Huntara saat ini dihuni oleh masyarakat korban likuifaksi. Ada potensi lahan seluas 3 hektar milik desa dan hibah milik warga yang bisa dimanfaatkan untuk lokasi pembangunan 30 unit rumah sementara dengan konsep rumah tumbuh menjadi hunian tetap yang layak dan aman. Sayangnya, hasil musyawarah desa yang diinisiasi Kepala Desa Sibalaya Selatan memberikan hasil diluar harapan tim, masyarakat keberatan dan belum  bisa menerima jika bantuan hanya 30 unit. Mereka berharap bantuan bisa langsung sejumlah 60-70  unit rumah. Dengan pertimbangan dana, kepastian lokasi, dukungan masyarakat dan kebijakan daerah, tim menilai program ini terasa sulit diwujudkan dan dikhawatirkan akan menyisakan persoalan baru di kemudian hari. Akhirnya tim pun memutuskan untuk mencoba koordinasi kembali untuk menyalurkan donasi di tempat lainnya.

Tim selanjutnya menuju kawasan terdampak gempa di Desa Sidera, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Kawasan ini berbatasan dengan Kota Palu dengan lokasi hunian sementara yang lokasinya tersebar. Kendala yang dihadapi adalah ada sebagian hunian sementara tidak ditempati masyarakat terdampak. Mereka lebih memilih untuk kembali ke tempat asal membangun rumah dengan material kayu sisa-sisa reruntuhan gempa maupun tinggal bersama keluarga yang rumahnya masih aman untuk ditempati. Alasannya antara lain: lokasi hunian sementara dianggap terlalu jauh dari lokasi asal, kurang nyaman, dan belum ada kepastian kapan hunian tetap akan dibangunkan. Dengan mayoritas masyarakat hidup dari sektor pertanian, gempa juga berdampak pada terhentinya kegiatan sektor pertanian. Jaringan irigasi pertanian rusak dan ketersediaan air di lahan sawah tidak mencukupi. Praktis saja, sejak terjadinya gempa produksi sektor pertanian hanya sebagian kecil saja dan suplai sembako mengandalkan bantuan dari luar wilayah. Selain rumah, fasilitas umum berupa masjid juga roboh rata dengan tanah. Sementara terdapat masjid darurat bantuan dari dewan masjid Indonesia. Melalui swadaya masyarakat dan bantuan dari berbagai pihak, warga mulai membangun pondasi bangunan masjid permanen meskipun dengan ketidakpastian pendanaan dan kapan akan bisa diselesaikan. Setelah diskusi dengan pengurus Masjid At Tartib, tim akhirnya memutuskan untuk menyalurkan donasi ke masjid ini. Dengan rencana anggaran biaya sekitar 1,3 Miliar rupiah, dengan dana yang telah terkumpul saat ini di pengurus masjid sebesar 300 juta maka tim berusaha untuk membantu menyelesaikan pembangunan masjid ini. Tim dari Fakultas Teknik Universitas Brawijaya akan membantu merencanakan kawasan Masjid Jami At Tartib dengan infrastruktur penunjang air bersih, lahan parkir, drainase dan konsepsi desain masjidnya yang disesuaikan dengan kemampuan pendanaan. Setelah desain dari tim Fakultas Teknik UB selesai, dan disetujui oleh takmir masjid, maka dalam waktu dekat proses pembangunan bisa segera dilanjutkan dengan harapan bisa selesai dan bisa segera digunakan oleh masyarakat.

pastedGraphic.png

Tim bersama pengurus masjid meninjau lokasi pembangunan Masjid At Tartib di Desa Sidera Kecamatan Sigi Biromaru Kab Sigi.

Belum Siapnya Rencana Induk Pembangunan Pasca Bencana

Selama bertugas 4 hari 3 malam, dengan tujuan menetapkan program yang tepat untuk membantu korban bencana gempa-likuifaksi di Kabupaten Sigi, tim berkesempatan untuk melihat beberapa kawasan terdampak bencana. Mulai tsunami, gempa bumi dan likuifaksi, baik di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi. Dominasi kerusakan yang terlihat yaitu rumah, infrastruktur jalan-jembatan, drainase, jaringan listrik serta fasilitas pendukung kegiatan ekonomi wilayah. Tsunami menyapu kawasan yang berada di Teluk Palu, kawasan perdagangan dan jasa, permukiman, perkantoran dan infrastruktur pendukungnya. Kecenderungannya, tsunami yang terjadi di kawasan teluk akan jauh lebih berbahaya dan menyebabkan daya rusak yang lebih hebat dibandingkan kawasan pesisir terbuka. Hal ini karena adanya akumulasi energi dari gelombang yang masuk teluk, berbeda di laut terbuka yang gelombangnya terpecah merambat ke kiri ke kanan atau tersebar. Sempadan pantai yang penuh dengan bangunan dan menjadi pusat kegiatan ekonomi luluh lantak digoyang gempa dan disapu tsunami.

Sedangkan gempa dan likuifaksi memporak-porandakan permukiman di Desa Jono Oge Kecamatan Biromaru dan Tanambulava Kabupaten Sigi, Kelurahan Petobo Kecamatan Palu Selatan serta Kelurahan Balaroa Kecamatan Palu Barat Kota Palu. Dua kawasan permukiman di Kota Palu telah hancur dan sulit diidentifikasi karena likuifaksi saat terjadi gempa. Pergeseran tanah dan permukiman yang ada diatasnya dengan dibagian tertentu kawasan permukiman hilang bagai ditelan bumi. Informasi di lapangan dari penuturan warga yang selamat menyebutkan bahwa masih terdapat ribuan korban meninggal yang tertimbun reruntuhan bangunan dan tenggelam akibat likuifaksi di kawasan Balaroa dan Petobo Kota Palu.

Ribuan korban yang berhasil selamat saat ini berada di hunian sementara yang disiapkan sambil menunggu pembangunan hunian tetap. Akan tetapi ada kendala yang menyebabkan proses pembangunan hunian tetap terhambat dan berlarut-larut. Salah satunya karena menunggu rencana induk yang masih dalam proses finalisasi. Ada indikasi pemerintah pusat yang dimotori oleh Bappenas belum siap mengumumkan secara resmi hasil kajian untuk menetapkan rencana induk. Ada dilema, tatkala pembangunan Kota Palu sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dengan pusat kegiatan ekonominya ternyata berada di kawasan zona merah yang berarti terlarang untuk lahan terbangun karena berada di zona rawan bencana. Begitu pula untuk area eks likuifaksi, dengan pertimbangan aspek geologi bisa jadi ada kemungkinan terjadi gerakan tanah di kemudian hari. Dengan pertimbangan keamanan dan mengacu pada Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, bahwa kawasan rawan bencana gempa-likuifaksi dan tsunami di PASIGALA diarahkan peruntukannya menjadi kawasan lindung meskipun kondisi eksisting sebelumnya adalah kawasan budidaya.

Menata Ruang yang Adaptif terhadap Bencana

Bencana gempa-likuifaksi dan tsunami telah merubah struktur ruang, pola ruang dan penetapan kawasan strategis di PASIGALA. Sehingga dokumen perencanaan tata ruang wilayah harus segera direvisi kembali dengan mempertimbangkan aspek kebencanaan. Setidaknya harus bisa menjawab pertanyaan akankah gempa, tsunami dan likuifaksi suatu saat akan datang kembali? Bagaimana kesiapan dan antisipasi perencanaan ruangnya?

Tata ruang berisi rencana struktur ruang, rencana pola ruang dan penetapan kawasan strategis. Rencana struktur ruang harus mampu merencanakan kembali pusat-pusat pertumbuhan baru yang aman terhadap ancaman bencana. Memastikan kawasan pertumbuhan ekonomi wilayah tidak berada pada bayang-bayang akan terimbas dari potensi bencana yang mungkin terjadi dikemudian hari.

Rencana pola ruang PASIGALA juga harus harmoni dengan rencana induk yang disusun Bappenas. Kawasan rawan bencana harus dimasukkan kedalam rencana kawasan lindung. Kawasan lindung merupakan wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Teluk Palu harus dikelola dengan mempertimbangkan aspek kawasan sempadan pantai dengan jarak minimal bangunan dari pasang tertinggi adalah 100 meter, menghijaukan sempadan pantai dengan hutan mangrove dan ruang terbuka. Bangunan-bangunan yang sudah terlanjur berdiri harus diatur ulang dengan mempertimbangkan keamanan dari bencana.

Kawasan rawan gempa dan likuifaksi  juga harus menjadi perhatian, perencanaan pada kawasan yang berada pada Jalur Sesar Palu Koro sangat membahayakan dan memungkinkan terjadinya bencana kembali. Sehingga kawasan ini juga diarahkan menjadi fungsi lindung, seperti ruang terbuka hijau, kawasan wisata edukasi geologi dan tidak diperbolehkan untuk fungsi permukiman kembali. Sosialisasi kepada masyarakat terdampak sangat penting untuk mengedukasi agar bisa mengerti dan paham terlebih jika harus direlokasi karena kerawanan wilayahnya terhadap bencana. Percepatan penetapan rencana induk juga harus segera diselesaikan karena menjadi pijakan pemerintah PASIGALA dalam merevisi rencana tata ruang wilayahnya dan pembangunan kawasan pasca gempa termasuk lokasi lahan untuk membangun rumah hunian tetap bagi relokasi korban likuifaksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*